2011/06/16

Mana yang Salah? Perbuatannya atau Hasilnya?

Saya jadi bingung, bagaimana cara mengajarkan karakter kepada anak didik kita nanti. Yang selama ini saya ajarkan kepada mereka adalah sanksi yang kita berikan kepada seseorang karena perbuatannya, bukan karena hasilnya. Jika seorang maling sudah terbukti hendak mencuri, walaupun belum berhasil, dia tetap ditangkap dengan tuduhan mencuri, dan diberi hukuman. Jadi, kita menghukum seseorang itu karena perbuatannya, bukan karena hasil perbuatannya, apalagi karena orangnya (like-dislike).

Kalau tak salah, yang saya tahu, bahkan dalam hukum agama kita masih ditoleransi ketika kita memiliki barang dari membeli atau pemberian yang kita tidak tahu bahwa itu hasil curian. Yang berdosa kan yang mencuri. (Tetapi, sebaiknya kita berhati-hati agar tidak terjadi demikian).

Coba perhatikan kutipan berikut (dari Kompas.com terkait dengan kasus contekan di SDN Gadel 2 Surabaya):

"Kita sudah mendapatkan jawaban dari setiap anak di Gadel, akan ketahuan apakah polanya sama sehingga terjadi nyontek massal. Kalau satu kelas salahnya sama, benarnya sama, nilainya sama, kita curigai ada nyontek massal. Tetapi, setelah melihat pola jawaban Matematika dan pelajaran lainnya, tidak menunjukkan terjadi kesamaan sehingga kami menyimpulkan tidak terjadi nyontek massal," kata Nuh. Ia memaparkan, dari laporan yang diterima, ditemukan bahwa ada instruksi dari guru kepada siswa. Hal ini, ditegaskannya, merupakan kecurangan dan guru telah mendapatkan sanksi. Akan tetapi, instruksi tersebut tidak serta-merta berjalan dalam pelaksanaan ujian."Bu Siami (orangtua siswa) melaporkan kejadian ini setelah ujian selesai. Sementara, kita sendiri tidak tahu bagaimana kejadiannya, tetapi sudah menyimpulkan terjadi nyontek massal. Untuk membuktikan apakah terjadi nyontek massal atau tidak, yang bisa kita lakukan adalah melihat bagaimana hasilnya," tutur Nuh.


Dalam pernyataan Mendiknas tersebut, memang jika analisa jawaban tidak menunjukkan pola yang sama maka bisa disimpulkan tidak terjadi contekan massal. Tetapi, bukankah juga bisa terjadi ada pola jawaban yang sama walaupun tidak terjadi contekan massal jika murid-murid memang bisa menjawab dengan benar?

Maka, saya cenderung fokus pada ditemukannya perintah untuk mencontek. Seperti halnya ilustrasi saya tentang pencuri di atas, maka perintah mencontek itu sudah merupakan perbuatan yang salah, terlepas dari hasil ujiannya menunjukkan pola contekan atau tidak.

Allohu a'lam.

0 komentar:

Poskan Komentar