2011/02/24

Keterampilan Berbahasa

Pekan lalu, seorang murid masuk ke ruang saya dan berkata, "Assalamu'alaikum. Ustaz, telpon."
Saya bingung. "Wa'alaikumsalam. Ada apa, Nak?" Tanya saya.
"Mau telpon." Jawabnya pendek dengan nada mengambang antara memberitahu dan bertanya.
"Ya, maksudmu apa? Telponnya kenapa? Yang mau telpon siapa?"
Dia diam. Kedua tangannya bergerak-gerak, menunjuk pesawat telepon di meja, kemudian bergerak berputar seperti orang yang hendak menjelaskan sesuatu tetapi sulit mengatakannya.
"Baik, ke sini dulu! Duduk di sini!" Perintah saya.
"Tolong, katakan dengan jelas keperluanmu apa!" Sambung saya begitu dia duduk.
"Anu, Ustaz. Mau nelpon ibu." Jawabnya.
"Ada apa kok mau nelpon ibu?" Tanya saya.
"Belum dijemput, Ustaz."
"Apa ibumu sudah tahu kalau hari ini waktunya pulang?"
Dia adalah murid yang tinggal di asrama. Dua kali sebulan, mereka yang tinggal di asrama diizinkan pulang mulai Sabtu siang sampai Ahad sore.
"Sudah."
"Kalau begitu, kamu tunggu saja. Insya Alloh sebentar lagi ibumu datang."
"Tapi, sudah lama, Ustaz."

Begitulah cara berbahasa murid saya. Beberapa murid yang lain pun demikian, dan mungkin juga murid di sekolah lain. Kalimatnya pendek-pendek, sulit mengungkapkan, dan kurang percaya diri.

"Baik, sekarang coba katakan keperluanmu dengan jelas dan bahasa yang baik dari awal!" Saya minta dia mengulangi.
"Emmm, Ustaz, aku mau nelpon ibu."
"Begini, coba tirukan saya," akhirnya saya bantu menyusun kalimat, "Ustaz, saya minta izin menelepon ibu."
Kemudian saya contohkan lagi, "Ustaz, saya belum dijemput. Mohon izin untuk menelepon ibu saya."

Usai mengajari dia, datang lagi seorang murid. "Ustaz, dipanggil Hani."
Hani adalah nama salah satu murid. Hani memanggil saya?

1 komentar:

  1. he.. he... sekali2, murid memanggil gurunya untuk datang kan gpp, ustadz... :D

    BalasHapus