2010/11/29

Maaf Tidak Bisa Bantu, Karena Saya Guru

Pekan lalu saya mengikuti ujian. Tes tulis untuk mengukur pemahaman seperti di sekolah-sekolah yang mengadakan ujian tengah semester. Peserta ujian banyak orang dari beragam latar belakang. Ada pegawai pabrik, pegawai kantoran, pengajar di sebuah sekolah (termasuk saya), mahasiswa yang juga bekerja, dan mahasiswa murni (yang tidak sambil bekerja).

Berbeda dengan ujian serupa yang saya ikuti 2 tahun lalu. Hampir semua peserta ujian adalah guru. Sedikit saja yang bukan. Mereka adalah para guru yang sedang mengikuti pendidikan untuk 'mengejar' sertifikasi yang mensyaratkan jenjang pendidikan sarjana. Jadi, mereka belum sarjana tetapi sebagian besar sudah mengajar selama bertahun-tahun. Ada beberapa orang bapak dan ibu guru yang tampak berusia lebih dari 40 tahun.

Begitu ujian berlangsung, saya terkejut bukan main. Ruang ujian ramai, hiruk-pikuk seperti pasar. Beginikah ujiannya para guru? Saya teringat ketika ada kegiatan sosialisasi sertifikasi 3 tahun yang lalu. Waktu itu, saya mewakili kepala sekolah karena sedang cuti melahirkan. Suasana pasar pun terjadi, bahkan ketika pembicara sedang memberikan penjelasan. Peserta - yang semuanya guru - baru tenang dan tertib ketika ada seorang bapak dari Dinas Pendidikan yang secara terus-terang menegur, "Kalau guru-gurunya seperti ini, bagaimana murid-murid?"

Sangat berbeda dengan suasana ujian murid-murid di sekolah yang tenang dan sunyi. Apalagi jika ujian akhir sering didapati ada tulisan besar "Harap Tenang Ada Ujian". Pengawas ujian bertampang garang berkeliling ke setiap meja peserta ujian. Pengawas itu adalah guru. Dan, guru yang menjadi pengawas itu adalah ... yang mengikuti ujian di tempat ini. Oh!

Saya berusaha mengerjakan beberapa soal esai. Rasanya tidak sulit, karena esai ditulis berdasarkan sudut pandang penulis. Jadi, terserah yang nulis, dong! Tetapi tetap harus memerhatikan kaidah-kaidah ilmiah karena ini jawaban soal ujian. Selain itu ada beberapa soal untuk menyebutkan hal-hal tertentu. Ini yang agak sulit bagi saya karena hafalan saya lemah.

Lalu ada beberapa orang mulai menanyai saya tentang jawaban dari soal yang diujikan. Saya katakan saya tidak tahu pasti, saya menjawab apa adanya yang saya ingat. Ada yang berkomentar dipikirnya saya tahu semua karena terlihat sibuk menulis jawaban sehingga tidak celingukan kiri-kanan seperti yang lain. Ah, begitu ya? Pikir saya.

Memang, masuk akal juga. Kalau tidak tahu jangan diam saja. Segera cari tahu! Begitu, kan, yang diajarkan oleh orang tua, guru, dan teman-teman kita? Tapi, apa tidak salah konteks jika ajaran itu dilakukan pada saat ujian? Ah, mungkin saja konteksnya sudah berubah saat ini. Buktinya, kita sering mendengar atau membaca berita tentang 'kerjasama' dalam ujian akhir nasional. Setiap tahun selama dekade terakhir ini selalu ada berita seperti itu, kan?

Suasana ruang ujian yang saya tempati pekan lalu tidak jauh berbeda dengan yang 2 tahun lalu, kecuali latar belakang dan jumlah pesertanya. Kali ini, latar belakang peserta lebih heterogen. Seperti saya sebut di atas, mereka pegawai pabrik, kantor, guru, mahasiswa (saja), dan mungkin pekerjaan lainnya yang saya tidak ketahui. Jumlah peserta dalam satu ruangan tidak banyak. Sekitar 30 orang. Sementara yang 2 tahun lalu kira-kira 80 sampai 100 orang.

Jika suasananya ramai kali ini, saya tidak terlalu kaget dibandingkan yang sebelumnya. Mengapa? Karena yang sebelumnya hampir semua peserta adalah guru. Ketika ada beberapa yang memanggil-manggil saya bertanya jawaban soal nomor sekian, atau sekedar menanyakan apakah saya bisa, saya balas dengan senyum saja. Jujur saja, tidak semua soal bisa saya jawab. Lho, tapi kenapa tenang-tenang saja? Ada kok yang siap membantu mencarikan jawaban. Terima kasih.

Saya tidak bermaksud menyombongkan diri di hadapan mereka dengan tidak mau menerima bantuan jawaban. Saya takut sombong, karena kesombongan itu menolak kebenaran, dan ancamannya tidak akan pernah bisa mencium bau surga. Astaghfirullah! Jangan-jangan, yang menawarkan jawaban menggunakan logika ini. Kalau jawaban yang ditawarkan adalah benar kemudian saya menolaknya, berarti saya menolak kebenaran. Saya sombong karena menolak kebenaran (jawaban yang ditawarkan). Saya tidak bisa mencium harumnya surga yang seharusnya sudah bisa tercium dari jarak yang sangat jauh. Waduh!

Atau, saya dianggap bakhil, pelit, kikir karena menyembunyikan ilmu. Mengetahui jawaban tetapi tidak memberitahu peserta lain yang sedang bingung mencari jawaban. Ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu adalah dilaknat Alloh dan semua makhluk yang bisa melaknat. Hiii, menakutkan!

Tidak! Logika saya bukan begitu. Saya minta maaf kepada semua teman dan peserta ujian. Maaf, tidak bisa membantu karena saya guru. Saya tidak bisa membantu pada saat ujian, baik membantu memberi jawaban maupun membantu menerima jawaban. Mengapa? Karena saya guru. Saya mempunyai murid yang membutuhkan pencerahan. Saya mempunyai murid yang membutuhkan contoh atau teladan. Kalau saya tidak jujur dalam ujian, bagaimana dengan mereka?

Tenang saja, toh mereka tidak menyaksikan. Memang benar mereka tidak menyaksikan. Tetapi tidak. Pendidikan bukan hanya kata-kata. Pendidikan punya jiwa yang hidup dan menghidupkan.

2 komentar:

  1. Salam hormat untuk Bapak Arief. Insya Allah bapak bisa menjadi teladan bagi murid-murid bapak.

    BalasHapus
  2. Salam Kenal Pak
    Masih mending itu ujian utk S1 Pak. Waktu saya ikut test masuk S2, juga banyak yang berisik. Padahal pd umumnya mereka Kep.Sek. Bahkan ad yg menggunakan HP utk call temannya sambil bisik2 mencari jawaban. Duuhh..pendidikan karakter, dari manakah di mulai..??

    Salam Prihatin Pendidikan

    BalasHapus