2010/08/30

Spiritualitas Profesionalisme Guru

Sebagai guru di SIT – dan jauh sebelum itu: sebagai seorang muslim – kita selalu memberi landasan bagi pemikiran kita, lebih-lebih kegiatan kita. Lantas, apa yang menjadi landasan bagi kita terhadap semangat untuk mengembangkan profesionalisme dalam profesi kita sebagai guru?

Jika profesionalisme merupakan ukuran keunggulan dalam pekerjaan, maka sama seperti ihsan yang menjadi ukuran mutu dalam ibadah. Ihsan secara bahasa diartikan sebagai baik atau kebaikan. Ada 3 aspek pokok dalam ihsan, yaitu akhlaq, muamalah, dan ibadah.

Akhlaq dalam ihsan adalah karakteristik yang tampak dan mencirikan atau indikator dari ihsan itu sendiri. Berangkat dari keyakinan akan adanya pengawasan dan kebaikan dari Allah sebagai Pemelihara alam semesta ini, maka karakteristik pertama dalam ihsan adalah niat yang baik. Dalam konteks profesionalisme, niat yang baik adalah motivasi bekerja yang baik. Indikator dari niat yang baik adalah niat yang ikhlas, yaitu berfokus pada diri bukan orang lain. Artinya, melaksanakan pekerjaan bukan karena orang lain, tetapi karena kesadaran akan tanggung jawab. Indikator berikutnya adalah pekerjaan yang tertib dan penyelesaian yang baik.
Muamalah dalam ihsan ini terkait dengan pola hubungan dengan orang lain. Adalah keniscayaan bahwa pekerjaan kita membutuhkan orang lain, maka di antara ukuran profesionalisme adalah mutu dalam pembinaan hubungan dengan orang lain.

Aspek ketiga yaitu ibadah merupakan hubungan yang lebih khusus kepada Allah atau dalam konteks profesionalisme merupakan hubungan secara struktural dengan level di atasnya. Maka, dalam hubungan ini ada ukuran yang terkait dengan hak dan kewajiban. Berdasarkan kajian terhadap Al-Qur'an, ibadah dalam pembahasan tentang ihsan ini mempunyai 3 tingkatan, yaitu pertama at-taqwa, kedua al-bir, dan ketiga (tertinggi) al-ihsan. Pada setiap tingkatannya, manusia tidak dapat mengukurnya karena semua itu rahasia Allah terhadap hamba-Nya. Hikmah yang bisa kita ambil dan memosisikannya dalam kerangka profesionalisme adalah:
  • at-taqwa, menjalankan atau mematuhi perintah, termasuk larangan; maka tingkatan ini adalah pencapaian standar minimal.
  • al-bir, menambahkan kebaikan-kebaikan melebihi batasan minimal.
  • al-ihsan, semakin banyak kebaikan dan telah melekat atau lebur menjadi sifat sehingga orientasi pada mutu adalah bagian dari seluruh kegiatan.
Dengan demikian, maka guru bukan hanya orang yang melakukan sesuatu dengan benar, melainkan lebih daripada itu, yaitu melakukan sesuatu yang benar. Do the right, not do it right (lebih parah lagi jika doit right = dhuwit (uang) yang menjadi orientasi).

0 komentar:

Poskan Komentar