2010/02/12

Pengaruh Robot pada Anak

Beberapa hari lalu, ada sebuah pertanyaan di milis yang saya ikuti. Ceritanya, pengirim email membutuhkan sumbang saran untuk mengendalikan kegemaran anaknya terhadap tontonan (televisi), lebih khusus lagi adalah film robot. Berikut adalah tanggapan saya.

-----

Bismillahirrohmanirrohim,

Saya coba sumbang saran, semoga ada manfaatnya.

1. Bagaimana mengendalikan potensi menonton robot pada anak yang sepertinya mulai sangat menyukai film tersebut?

Kedua anak saya, laki dan perempuan menyukai film robot, bahkan sampai merengek dibelikan mainannya. Padahal, betapa mahalnya harga 1 buah mainannya. (Hampir semua produk berlogo Marvel - pembuat Transformer - harganya mahal).

Tapi, menghentikan kesukaannya dari tontonan robot juga sulit. Lha gimana, wong saya sendiri suka (he he he). Saya ini justru dikenal banyak orang karena robot (ceritanya, dulu waktu kuliah saya pernah ikut kontes robot di Jepang). Maka, alternatif saya adalah mengajak mereka membuat robot dari yang sederhana, mudah, dan terapan.

Yang saya maksud terapan adalah teknik-teknik dalam robotika yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, dari sana, perkembangan motorik anak saya pun meningkat. Anak saya yang sekarang kelas 5 SD, baru bisa meyobek bungkus permen ketika dia kelas 4. Jari-jarinya bertambah kuat dan terampil ketika dia asyik merangkai - pasang bongkar (pasang lagi? nggak!) - mainan robotnya.

Begitu mereka tahu ada Transformer the movie ... bukan kartun lagi ... saya pun khawatir. Lha bagaimana nggak, melihat thriller-nya saja saya sudah berpikir, ini film dewasa. Mungkin saya bisa mensterilkan rumah, tapi bagaimana ketika mereka di luar? Apalagi dengan kelengkapan teknologi saat ini. Maka, saya download Transformer the movie kemudian saya edit - membuang beberapa bagian untuk bisa ditonton mereka.

Yang laki-laki suka menggambar. Hampir semua gambarannya adalah robot. Robot dari Transformer, Zoid, dan imajinasinya sendiri. Ide-ide kreatifnya tentang robot pun berkembang.

Kalau yang perempuan lebih suka role-playing. Dia susun mainannya - robot, boneka, mobil-mobilan, Lego, dll - membentuk miniatur rumah, atau kota lalu menjalankan ceritanya.

2. Adakah mekanisme lain yang harus dilakukan, seperti tidak menyalakan TV, atau lainya?

Sejak anak saya baru satu dan masih kecil, saya ingin mencoba rumah tanpa teve. Tapi, di luar dugaan, kakeknya memberi hadiah teve. Katanya, masa rumah zaman sekarang kok nggak ada teve, daripada nonton di rumah tetangga. Ya ... sudah.

Maka kami (saya dan isteri) membuat aturan tentang teve. Hanya acara anak-anak yang boleh ditonton mereka dan salah satu dari kami atau salah dua (he he) harus mendampingi. Dulu, ada tontonan bagus seperti Banana and Pajama, Tweenies, Teletubies, Sesame Street. Hampir semua produksi luar negeri. Yang Indonesia? Menurut saya belum masuk kualifikasi (Ups!)

Begitu mulai bersekolah, hingga sekarang, teve hanya boleh di hari Sabtu dan Ahad karena libur. Itu pun hanya 2 atau 3 acara anak, seperti Si Bolang, Laptop Si Unyil, film Ben-10 atau Avatar The Legend of Aang, atau Naruto, atau lainnya. Satu hari cukup 2 atau 3 judul. Beberapa film harus didampingi, seperti Avatar yang pada episode-episode akhir ... mulai ada adegan dewasa.

Saya bisa sebutkan semua yang ditonton anak-anak saya karena saya atau isteri saya usahakan menontonnya juga. Atau jika tidak ada waktu, kami pun mengajak mereka bercerita tentang apa-apa yang baru ditontonnya.

3. Mohon tanggapan, apa akibat jika anak kita terlalu banyak nonton film "robot" bagi perkembangan psikologinya?

Menurut saya, 'terlalu banyak' tidak boleh, karena Alloh tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Ada ayatnya, kan?) Ada saatnya bagi saya untuk memutus dengan paksa episode film yang ditonton oleh anak-anak saya. Begitu ada tanda-tanda ketagihan akan lanjutan ceritanya, maka saya pun merekayasa alternatif kegiatan yang mengharuskan mereka meninggalkan film yang sedang ditunggu-tunggunya, dengan sukarela ataupun terpaksa (wuik, seram!). (Nggak juga,) asalkan, alternatif kegiatan tersebut tak kalah menariknya. Misalnya, mengajak mereka jalan-jalan ke toko buku. Ini yang paling disukai mereka. Apalagi jika ada janji, "Nanti kalian boleh memilih buku untuk dibeli."

Semoga Alloh senantiasa melindungi kita. Amin.

2 komentar:

  1. Anakku juga suka ama robot, yang kecil (4 tahun)suka mainan lego dan membuat bentuk-bentuk pesawat, kapal atau robot dari lego itu. Dia selalu bosen sama mainan yang ada, tapi gak pernah bosen sama lego karena bisa dibuat macem-macem. Kalo u punya info tentang lego yang bisa dibuat robot dan bisa jalan tolong beritahu aku ya,agar kreasi dan imajinasinya bisa lebih berkembang. Terima kasih sebelumnya.
    Dari kawan lama, suzi.

    BalasHapus
  2. Thanks atas informasinya... jika anda memiliki pertanyaan dan ingin memasukkan anak anda ke tempat pendidikan robotik silahkan klik robota.co.id

    makasih,

    BalasHapus