Masih ingat ungkapan 'beli kucing dalam karung'? Itulah yang baru saja kualami. Tapi, ini buku yang kubeli.
Sudah beberapa hari sejak Muswil II JSIT Jatim bulan lalu, aku ingin mendapatkan cerita dan bacaan yang ringan, santai, dan lucu. Lalu ada kesempatan ke toko buku mengantar isteriku yang sedang membutuhkan beberapa buku untuk penyusunan materi pelatihan character building. Setelah menyusuri hampir seluruh rak buku di toko itu, aku menemukan satu buku yang judulnya menandakan buku ini nggak serius alias ringan, santai, dan lucu seperti kriteriaku. Kubaca sinopsis yang dicetak di sampul belakang, makin yakin aku dengan buku yang kucari.
Sayangnya, buku-buku yang dijual di toko buku sekarang ini hampir semua dibungkus plastik dan dilarang dibuka. Bahkan, pernah - dulu sekali - aku mendapati sebuah peringatan: membuka berarti membeli! Seram!
Maka, dengan yakin kumasukkan buku itu bersama buku lain ke dalam tas belanja lalu menuju kasir. Syukurlah, semua buku yang kubeli mendapat diskon. Tepad seperti tag-line toko, yaitu toko buku diskon.
Sampai di rumah, segera kusobek plastik pembungkus buku yang isinya ringan, santai, dan lucu itu. Kupilih halaman secara acak dan mulai membaca beberapa paragraf. Aduh ... sakit perutku. Bukan karena aku tertawa terpingkal-pingkal karena lucunya, tetapi mual bagai makan nasi basi. Ah, mungkin hanya halaman ini, pikirku. Aku balik-balikkan halaman lain dan memilihnya acak. Wueg!!! Makin mual perutku.
Oh, tega nian penulis buku ini. Tapi, menurutku lebih tega lagi penerbitnya. Apa sudah tidak ada lagi tulisan yang bergizi?
Begitulah resiko membeli buku dalam karung plastik. Tak hanya kucing sekarang, buku pun tak bisa diteliti dulu.
2010/02/10
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar