2009/06/11

Pilpres 2009

Tulisan ini saya kirim di milis [sd-islam] sebagai tanggapan diskusi tentang Pilih Siapa di Pilpres 2009.

Sebagai seorang pendidik, lantas apa yang kita lakukan di tengah ramainya Pilpres ini?

Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengajarkan proses panjang mencapai cita-cita. Apakah itu cita-cita sebuah negara, atau sekelompok masyarakat. Saya anggap ini menjadi penting karena penyakit 'instan' telah mewabah di negeri ini. Lihat kembali Pileg kemarin. Sebagian besar orang memilih Caleg yang mau memberi uang atau sejenisnya yang lebih besar nilainya. Malah ada yang memilih Caleg yang paling paling akhir memberi (menjelang hari pemilihan, serang fajar) walaupun nominalnya tidak seberapa. Di daerah saya, ada sekelompok masyarakat yang telah 'diopeni' oleh tokoh partai tertentu sejak lama, dua bahkan tiga tahun sebelum Pemilu dengan advokasi dan bea siswa. Tetapi, suara partai sang tokoh 'jeblok' di sana. Usut punya usut, ada serangan fajar dengan amunisi 15 ribuan hingga 25 ribuan.

Jika ingin bangsa ini maju dan mandiri, kita harus mengajarkan kepada masyarakat, utamanya murid-murid kita tentang proses panjang pembangunan. Kesejahteraan tidak bisa didapat hanya dengan sekejap. (Kecuali dapat undian milyaran, itu pun hanya yang bersifat materi dan tak akan berdampak lama jika mentalnya tidak siap). Maka, memilih pemimpin bangsa tidak pula bisa dilakukan hanya dengan sim-salabim. Kita membutuhkan data yang cukup sebagai alasan untuk menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon. Tetapi perlu diingat, bahwa pemilihan calon tersebut bukanlah tujuan akhir dari proses panjang pembangunan. Kita harus bisa 'ngempet' menahan diri untuk tidak terjebak pada kepentingan sesaat. Karena setiap zaman itu ada tokohnya.

Calon pemimpin yang bersedia bekerjasama dalam bingkai platform tentulah yang lebih berpeluang membangun bangsa ini daripada calon yang mengandalkan kesalehan pribadi dan dominasi kelompoknya. Kesediaan untuk menerima platform yang diajukan sebagai bingkai kerjasama dapat menunjukkan kapasitas kepemimpinannya karena di dalam bangsa ini ada banyak kelompok dengan keunikan masing-masing.

Saya analogikan di sebuah kelas yang berisi 30 murid dengan keunikan masing-masing. Seorang wali kelas yang baik tentulah yang dapat menjadi fasilitator bagi seluruh muridnya. Setiap muridnya bisa merasa dekat dengan wali kelas tersebut, bukan hanya murid yang fast-learner saja, yang fisiknya baik saja, atau sekelompok kecil lainnya.

Lantas bagaimana cara kita mendapatkan data akurat tentang calon-calon pemimpin itu? Saat ini, sumber informasi ada di mana-mana. Yang perlu kita jadikan pegangan adalah tidak semua sumber itu menyajikan informasi yang shahih dan dari sanad yang tersambung ke orang pertama. Pendahulu kita telah mengajarkan hal ini pada periwayatan hadits. Siapakah pembawa informasi yang bisa kita percaya dan siapa yang tidak, kita pun bisa mengukurnya.

Akhirnya, saya punya sebuah harapan besar kepada bangsa ini, khususnya insan pendidikan untuk menjadi perhelatan Pilpres (dan tentunya Pileg kemarin) sebagai media pembelajaran bagi murid-murid kita.
Allohu a'lam bishowab.

2009/06/05

Meyakini Kemampuan

Di dunia persekolahan, aku telah bertemu banyak orang. Mereka adalah para pengelola sekolah, guru, wali murid, dan yang sekedar pengamat. Aku bilang pengamat karena perkenalanku dengannya tidak cukup dalam untuk mengetahui posisi bahkan profesi dia, tetapi dengan kritis dia dapat memberikan komentar terhadap sekolah.
Kali ini, aku tertarik untuk memilih dua kelompok yang berpendapat berbeda. Boleh kalau dikatakan berseberangan, walaupun aku yakin ada titik temunya.

Kelompok pertama aku sebut saja yang yakin akan kemampuannya. Di sekolah ini, baik pengelola, guru, dan wali murid merasa yakin bahwa proses yang dijalankan oleh sekolah dapat memberikan perubahan signifikan. Proses yang mereka desain dapat diukur secara ilmiah tahap-tahap pencapaiannya. Apapun kondisi yang akan dihadapi nanti telah mereka siapkan solusinya. Ada rencana A, rencana B, dan seterusnya. Sekolah yang seperti ini aku lihat punya ciri khas yang menunjukkan kemantapan akan keyakinan dirinya. Ciri khas itu adalah menerima calon murid apa adanya.

Sementara kelompok kedua aku sebut yang kurang yakin akan kemampuannya. Bahkan, ketika banyak orang memberi pengakuan bahwa sekolah ini baik, tetap saja pengelola, guru, dan biasanya tidak semua wali muridnya kurang yakin bahwa sekolahnya dapat memberikan kemajuan signifikan pada peserta didiknya. Mereka suka berganti-ganti pijakan. Sering membuat program dadakan. Pendeknya, mereka lemah dalam perencanaan sehingga proses yang dijalankan sulit diukur. Jika datang masalah yang besar, jurus mabuk yang keluar. Orientasi kerja jangka pendek lebih dominan dibandingkan jangka panjang. Akibatnya materi pembelajaranpun untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, yaitu peserta didik mampu menyelesaikan soal ujian. Dengan pola ulangan harian, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester, maka lebih pendek lagi orientasi materi pembelajarannya.

Jika demikian, pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi kehidupan. Maka lulusanpun menjadi tidak mengerti apa-apa kecuali menyelesaikan soal-soal di atas kertas. Tak heran, banyak sarjana tapi tidak menguasai ilmunya. Atau banyak sarjana tetapi tidak menguasai keterampilannya.

Lah, memangnya aku sendiri bisa apa? Mohon dimaklumi saja, aku kan produk dari persekolahan kelompok kedua.

Hasil pengamatanku terhadap kelompok kedua yang kurang yakin akan kemampuannya ini mempunyai ciri khas juga. Jalan pintas! Ketika hendak merekrut calon murid, mereka memilih yang baik-baik saja, bahkan yang terbaik saja. Jalan pintas agar tidak perlu mengajar dengan susah payah, bukan? Kemudian proses yang dijalankan pun menggunakan jalan pintas, yaitu drill. Istilah ini sangat populer selama beberapa generasi. Maka, nilai akhir yang diperoleh lulusan akan mengundang decak kagum semua orang.

Kini, kesedihan meliputiku begitu tahu jumlah yang berada pada kelompok kedua ini lebih banyak. Sekolah-sekolah yang begitu diharapkan oleh banyak orang untuk bisa memberikan perubahan ternyata tak mampu meyakinkan diri akan kemampuannya. Bagi siapakah sekolah-sekolah itu dibangun? Anak-anak? Pemerintah. Karena angka-angka yang ditetapkan oleh pemerintah yang dikejar, bukan kebutuhan anak-anak itu untuk disiapkan menjadi pewaris kehidupan.

Jika tak punya, dengan apa akan memberi? Jika keyakinan akan kemampuan diri saja tak dipunyai, maka bagaimana bisa meyakinkan orang lain untuk melejitkan kemampuannya? Sekolah yang tak yakin akan kemampuannya membuat perubahan akan tampak sibuk tapi tak menghasilkan. Orang bilang, seperti ekor cecak yang terputus, bergerak hebat tapi tak ke mana-mana.

Oh, sungguh kasihan! Seribu potensi yang terpendam pada setiap anak akan tetap terpendam.