2009/02/20

Petani China Menciptakan Robot

Wu Yulu, petani China menciptakan robot dari barang-barang bekas. Petani yang tidak pernah menempuh pendidikan tinggi formal ini akhirnya mendapatkan keuntungan dari robot ciptaannya. Pertama kali keluarganya banyak yang menyangsikan akan robot-robot yang dia ciptakan. Penciptaaan robot-robot ini telah menghabiskan kekayaan keluarganya, sehingga jatuh ke dalam kondisi harus hidup dengan hutang-hutangnya. Setiap penjualan robotnya dia pergunakan untuk membayar tagihan bulanan yang harus dibayar.

Istri dan dua anaknya selalu mengingatkan agar tidak terlalu mengeluarkan uang untuk robot-robotnya. Akhirnya robot-robotnya mendatangkan uang baginya dengan adanya kerjasama dengan pihak swasta dan universitas. Robot laba-laba yang mampu merangkak di tembok adalah robot yang paling menarik.

Wu Yulu, 46 tahun, petani yang hanya sampai ke jenjang pendidikan SD kelas lima ini, mengatakan bahwa hal yang paling menarik dari penciptaan robot ini adalah ketika robot-robot ini dapat bergerak dengan sempurna.

Sumber: www.infokomtek.com

2009/02/17

Inspirasi Orang Sederhana

Namanya Soewito. Dia adalah kakak tertua ibuku. Aku mengenalnya sejak kecil, Pakde Wito, begitu aku dan saudara-saudaraku yang lain memanggilnya. Dia orang biasa saja, seperti kebanyakan orang Jawa dan pensiunan karena usianya yang sudah lanjut.

Pakde Wito berkunjung ke rumah kami beberapa bulan sekali. Dengan mengendarai sepeda angin zaman dulu yang sekarang digemari oleh anggota paguyuban sepeda. Waktu itu saya tidak pernah berpikir apakah Pakde Wito capek atau tidak dengan bersepeda, padahal jarak rumahnya dengan rumah kami 20-an kilometer. Kalau sekarang, jarak seperti itu mungkin ringan ditempuh dengan sepeda karena sepeda sekarang sudah canggih dan jalan-jalan mulus. Tetapi waktu itu, jalan ke desa kami tanah berbatu. Jika musim hujan jalan sangat becek. Bahkan, jika sudah sangat beceknya, bukan lagi orang naik sepeda tetapi sepeda naik orang. Terpaksa pengendara sepeda memikul sepedanya yang tidak bisa lagi dikendarai.

Yang sempat saya pikirkan tentang Pakde Wito waktu itu adalah mengapa berkunjung rutin ke rumah kami. Setiap kali berkunjung, Pakde Wito menginap 1 atau 2 hari kemudian pergi melanjutkan perjalanan. Lain hari, saat aku berkunjung ke rumah nenek, Pakde Wito ada di sana dengan sepeda anginnya. Begitu juga saat aku berkunjung ke rumah kerabat yang lain, pernah bertemu Pakde Wito sedang menginap di sana. Apa yang dikerjakannya?

Pekerjaan Pakde Wito tak lepas dari tas yang selalu menempel di bagasi sepeda anginnya. Dia adalah tukang reparasi radio keliling. Jika Pakde Wito menginap di rumah kami dan ada radio yang butuh 'pertolongannya', aku paling suka menungguinya. Tahun 1980-an, di desa kami belum ada layanan listrik. Seperti halnya seterika, penyolder yang digunakan Pakde Wito menggunakan bara arang. Memperhatikan peralatan dan komponen radio yang berserakan sangatlah asyik bagiku. Apalagi melihat papan sirkuit elektronik yang tercetak jalur-jalur penghubung komponen satu dengan lainnya, aku sering menghayalkan ia sebuah kota masa depan dengan jalan dan bangunan yang imajinatif.

Tapi aku baru benar-benar tertarik pada elektronika ketika di SMP. Aku dititipkan di rumah saudara yang dekat dengan SMP karena orang tuaku sedang ditugaskan di Pulau Kangean. Rumah yang aku tempati dekat dengan rumah Pakde Wito, kira-kira 1 kilometer saja. Aku sering berkunjung ke rumahnya dan minta diajari elektronika. Proyek pertama yang aku kerjakan adalah membuat lampu kedip. Aku membeli kit-nya setelah tahu dari sebuah majalah anak-anak. Pakde Wito yang membimbingku karena di sekolah tidak ada kegiatan pembinaan keterampilan elektronika.

Menjelang semester kedua SMP aku dipindahkan ke kota tempat orang tuaku bertugas. Tidak lagi di Pulau Kangean. Orang tuaku baru saja dipindahkan kota. Senang bisa berkumpul kembali, dan lebih menyenangkan lagi karena dekat dengan kota Surabaya. Di sini pun, Pakde Wito sempat beberapa kali berkunjung dan menginap.

Kegemaranku pada elektronika mendapat tempat. Di sekolah ada pelajaran keterampilan elektronika. Di rumah, ada Mas Budi, orang yang ikut tinggal bersama orang tuaku sekaligus staf di kantor ayahku. Mas Budi juga terampil dalam elektronika. Dialah yang mengajariku menggunakan penyolder listrik pertama kali.

Jika kini aku dikenal oleh orang lain, khususnya di lingkungan Sekolah Islam Terpadu sebagai orang yang menguasai teknologi dan mengembangkan robotika untuk anak-anak, maka semua itu tak bisa dipisahkan dari Pakde Wito yang secara tidak langsung telah menyulut kegemaranku pada elektronika.

Jum'at kemarin, 13 Februari 2009, aku mendapatkan telepon yang mengabarkan meninggalnya Pakde Wito.

Sebagai kenangan, maka aku menulis catatan ini. Semoga Alloh menjadikan ilmunya telah memberiku inspirasi dan aku gunakan pula untuk membangkitkan inspirasi menjadi amal jariyah Pakde Wito. Maafkan aku, karena tak sempat berterima kasih.