Tulisan ini saya kirim di milis [sd-islam] sebagai tanggapan diskusi tentang Pilih Siapa di Pilpres 2009.
Sebagai seorang pendidik, lantas apa yang kita lakukan di tengah ramainya Pilpres ini?
Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengajarkan proses panjang mencapai cita-cita. Apakah itu cita-cita sebuah negara, atau sekelompok masyarakat. Saya anggap ini menjadi penting karena penyakit 'instan' telah mewabah di negeri ini. Lihat kembali Pileg kemarin. Sebagian besar orang memilih Caleg yang mau memberi uang atau sejenisnya yang lebih besar nilainya. Malah ada yang memilih Caleg yang paling paling akhir memberi (menjelang hari pemilihan, serang fajar) walaupun nominalnya tidak seberapa. Di daerah saya, ada sekelompok masyarakat yang telah 'diopeni' oleh tokoh partai tertentu sejak lama, dua bahkan tiga tahun sebelum Pemilu dengan advokasi dan bea siswa. Tetapi, suara partai sang tokoh 'jeblok' di sana. Usut punya usut, ada serangan fajar dengan amunisi 15 ribuan hingga 25 ribuan.
Jika ingin bangsa ini maju dan mandiri, kita harus mengajarkan kepada masyarakat, utamanya murid-murid kita tentang proses panjang pembangunan. Kesejahteraan tidak bisa didapat hanya dengan sekejap. (Kecuali dapat undian milyaran, itu pun hanya yang bersifat materi dan tak akan berdampak lama jika mentalnya tidak siap). Maka, memilih pemimpin bangsa tidak pula bisa dilakukan hanya dengan sim-salabim. Kita membutuhkan data yang cukup sebagai alasan untuk menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon. Tetapi perlu diingat, bahwa pemilihan calon tersebut bukanlah tujuan akhir dari proses panjang pembangunan. Kita harus bisa 'ngempet' menahan diri untuk tidak terjebak pada kepentingan sesaat. Karena setiap zaman itu ada tokohnya.
Calon pemimpin yang bersedia bekerjasama dalam bingkai platform tentulah yang lebih berpeluang membangun bangsa ini daripada calon yang mengandalkan kesalehan pribadi dan dominasi kelompoknya. Kesediaan untuk menerima platform yang diajukan sebagai bingkai kerjasama dapat menunjukkan kapasitas kepemimpinannya karena di dalam bangsa ini ada banyak kelompok dengan keunikan masing-masing.
Saya analogikan di sebuah kelas yang berisi 30 murid dengan keunikan masing-masing. Seorang wali kelas yang baik tentulah yang dapat menjadi fasilitator bagi seluruh muridnya. Setiap muridnya bisa merasa dekat dengan wali kelas tersebut, bukan hanya murid yang fast-learner saja, yang fisiknya baik saja, atau sekelompok kecil lainnya.
Lantas bagaimana cara kita mendapatkan data akurat tentang calon-calon pemimpin itu? Saat ini, sumber informasi ada di mana-mana. Yang perlu kita jadikan pegangan adalah tidak semua sumber itu menyajikan informasi yang shahih dan dari sanad yang tersambung ke orang pertama. Pendahulu kita telah mengajarkan hal ini pada periwayatan hadits. Siapakah pembawa informasi yang bisa kita percaya dan siapa yang tidak, kita pun bisa mengukurnya.
Akhirnya, saya punya sebuah harapan besar kepada bangsa ini, khususnya insan pendidikan untuk menjadi perhelatan Pilpres (dan tentunya Pileg kemarin) sebagai media pembelajaran bagi murid-murid kita.
Allohu a'lam bishowab.
2009/06/11
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 comments:
Poskan Komentar