2008/12/31

Israel Membela Diri? Memangnya Siapa yang Memulai?

Saya pernah mendamaikan anak-anak yang bertengkar di sekolah. Pertengkaran mereka cukup sengit. Bahkan sampai saling pukul. Teman-teman mereka berkerumun. Sebagian berteriak melerai, sebagian lainnya hanya menonton. Saya sempat bersyukur, tak ada yang memprovokasi. Semoga ini adalah salah satu buah pendidikan Islami yang kami usahakan.

Seorang guru mencoba melerai tetapi kewalahan. Saya pun mendekat. Kedua anak itu saya gandeng, satu dengan tangan kanan, satu dengan tangan kiri. Mereka saya paksa masuk kantor bersama guru yang melerai tadi.

Di kantor, mereka saya dudukkan di sofa, tetap dalam gandengan. Si A saya tanya mengapa dia memukuli Si B. Katanya karena Si B menendangnya. Si B saya tanya apa benar menendang Si A, dia jawab benar tetapi itu dilakukannya untuk membalas karena Si A telah mendorongnya hingga jatuh waktu berdesakan hendak keluar kelas. Saya kembali tanyai Si A, apa benar telah mendorong Si B. Tidak, akunya. Lalu siapa yang mendorong? Si C, jawab Si A.

Saya suruh Si A memanggil Si C. Si C datang langsung saya tanya apakah dia yang mendorong Si B. Benar, tetapi itu tidak sengaja karena berdesakan, jelas Si C. Singkatnya, mereka pun bisa didamaikan karena telah jelas asal mula masalahnya.

Saya teringat pengalaman ini begitu mendengar pernyataan pemimpin beberapa negara terhadap agresi Israel ke Palestina yang disiarkan Radio Suara Surabaya kemarin dalam perjalanan Sidoarjo-Surabaya. Beberapa negara masih menerapkan standar ganda dalam pernyataan sikapnya. Yang paling saya ingat adalah pernyataan dari Kanada. Ia mendesak Israel untuk segera menghentikan serangannya sekaligus mendesak Hamas agar berhenti juga melakukan serangan rudal ke Israel. Karena serangan Israel adalah bentuk dari pembelaan diri terhadap serangan-serangan yang dilakukan oleh Hamas.

Ini membingungkan. Israel yang berambisi mengambil alih tanah Palestina, menggusur, meluluhlantakkan pemukiman orang Palestina disebut membela diri ketika membombardir wilayah Palestina karena pejuang Palestina melawannya. Serangan-serangan Israel disebut sebagai serangan balasan untuk menghukum pejuang Palestina yang berusaha menggagalkan usaha perdamaian. Sementara perlawanan para pejuang Palestina disebut sebagai aksi teror.

Anak-anak saja sangat faham tentang makna membela diri dan membalas. Tetapi, dunia ini telah dibutakan oleh media pro-Israel tentang makna itu.

Siapakah yang sesungguhnya telah memulai perang ini? Siapakah yang nyata-nyata melakukan penjajahan terhadap bangsa Palestina? Dialah yang lebih layak disebut sebagai teroris. Dan usaha-usaha pejuang Palestina itulah pembelaan diri yang sebenarnya.

Ya Alloh! Terlaknatlah orang-orang Yahudi!

2008/12/23

8 Inspiring Women dari PKS

Saya ucapkan barokalloh kepada seluruh tokoh yang mendapatkan penghargaan dari PKS sebagai 'Inspiring Women' dalam rangka Hari Ibu. Di Sidoarjo, DPD PKS juga memberikan penghargaan ini kepada 8 perempuan yang menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.

Salah satu yang saya tahu, Bu Ummi, seorang guru yang sudah 30-an mengajar di desa terpencil di Sidoarjo. Sebulan lalu, murid-murid kelas 6 SDIT Insan Kamil Sidoarjo tempat saja bekerja berkunjung ke desa itu. Desa Kalikajang, sebuah desa yang seolah terisolir dari kemajuan kota Sidoarjo.

Untuk mencapai desa itu, kita mesti melalui jalan darat di antara tambak-tambak ikan yang dengan bersepeda motor 45 menit. Jika musim hujan seperti ini, jalan tersebut susah dilalui.

Murid-murid saya waktu itu memilih jalur sungai, menyewa perahu. Mereka menyusuri sungai sekitar 2 jam untuk menuju ke Kalikajang. Di sana, mereka menginap di rumah penduduk dan menyelenggarakan bakti sosial membangun sarana MCK. Tentu saja, ada tukang yang mengerjakannya. Mereka hanya membantu.

Yang luar biasa, Bu Ummi telah puluhan tahun mengajar tanpa gaji yang layak. Bahkan, seringkali terlambat atau bahkan 'terlewat'. Dulu dia bersekolah di sekolah tempat kini dia mengajar. Begitu juga anaknya. Kemudian cucunya. Kini dia mengajar cicitnya.

Ketika ditanya mengapa dia bertahan mengajar di sana, bahkan anaknya pun ikut mengajar, dia menjawab karena tidak ada yang mau mengajar di tempat ini.

Pagi itu, bertempat di kantor DPD PKS Sidoarjo acara anugrah 8 Inspiring Women sedang disiapkan. Isteri saya di bagian penerima tamu. Seorang ibu tua didampingi anaknya datang. Setelah mempersilakan duduk, isteri saya mengajaknya mengobrol sejenak. Belum ada tamu lain yang datang. Dia yang pertama. Dia-lah Bu Ummi, yang berangkat dari rumahnya di Kalikajang pukul 5 pagi dengan berjalan kaki 3 jam menuju kota Sidoarjo untuk menghadiri undangan DPD PKS. Sampai di kota, dia naik becak karena tidak tahu lokasinya.

Malu rasanya, bertemu dengan orang-orang seperti ini. Tak bisa dibandingkan apa yang sudah saya kerjakan dengan apa yang telah mereka kerjakan.