Menjelang dan sesudah hari raya Idul Fitri 1429 H, ada catatan penting bagi saya. Ketika uji publik RUU Pornografi dilakukan oleh Pansus DPRRI, gelombang penolakan bermunculan. Media massa menyiarkannya. Semakin heboh aksi penolakannya, tentu semakin layak dimuat di media massa.
Tetapi di manakah mereka yang mendukung? Tak adakah yang mendukung pengesahan RUU Pornografi? Atau karena aksinya kurang 'greget' sehingga tak mendatangkan untung bagi media massa? Atau, bahkan lebih mendasar lagi karena RUU Pornografi tidak menguntungkan bagi media massa sehingga tak perlu disiarkan?
Saya yakin, para pendukung RUU Pornografi tidak sedang diam. Jumlah mereka justru lebih banyak daripada yang menolaknya. Mengapa saya berkeyakinan demikian?
Ya, karena kita ini bangsa beradab. Bangsa beradab adalah bangsa yang mempunyai kepedulian terhadap kesusilaan dan kemanusiaan. Bangsa beradab adalah bangsa yang sangat peduli terhadap HAM dan memperjuangkan persamaan hak bagi semua golongan; laki-laki dan perempuan, miskin dan kaya, perkotaan dan pedalaman, maju dan tertinggal, terdidik dan kurang terdidik. Semuanya.
Maka, sebaliknya bangsa yang kurang beradab adalah bangsa yang tidak mempunyai kepedulian terhadap kesusilaan dan kemanusiaan, tidak peduli terhadap HAM dan tidak memperjuangkan persamaan hak bagi semua golongan. Ia sarat dengan kepentingan. Tapi sayangnya, seringkali kita lengah karena kepentingan-kepentingan itu dikemas dengan beragam bahasa. Mulai dari bahasa yang lembut melenakan hingga bahasa keras mengancam.
Bahasa yang lembut melenakan digunakan ketika hendak merekrut, seperti opini bahwa semua agama itu sama benarnya. Kalau memang pernah menyatakan bahwa semua agama itu sama benarnya, lalu kenapa RUU Pornografi dituduh sebagai kepentingan kelompok Islam? Memangnya di agama lain membolehkan Pornografi? Sementara bahasa yang keras mengancam digunakan untuk melawan jika ada yang hendak mengusik kepentingannya, seperti ancaman akan memisahkan diri dari NKRI. Ini yang saya tidak sukai. Sedikit-sedikit ada masalah, ancaman disintegrasi. Saya malah curiga kepada orang-orang seperti ini, benarkah mereka ikut membangun negara ini? Atau hanya menari di atas penderitaan yang lain?
Adakah hubungannya antara penentang RUU Pornografi dengan orang-orang yang menari di atas penderitaan orang lain? Menurut saya ada. Mereka yang menginginkan agar suku-suku bangsa di pedalaman tetap dengan keprimitifannya; setengah telanjang atau dengan koteka adalah contohnya. Yang mereka lakukan adalah menjual keterbelakangan saudara-saudara suku pedalaman itu dengan kemasan pelestarian budaya. Sebenarnya, yang hendak mereka lestarikan adalah kebodohan. Dan dengan melestarikan kebodohan itu, mereka dapat mengeruk keuntungan. Mulai dari menjual foto-foto mereka, mementaskan karya seni mereka, hingga mengambil sumber daya alam mereka. Kalau kita pikir, mengapa masyarakat tertinggal justru ada di daerah yang kaya sumber daya alam?
Di bidang yang lain, saya sering mendengar dan membaca teriakan mereka yang menyebut dirinya pembela kesetaraan gender. Tetapi apa yang mereka perbuat terhadap para perempuan model iklan yang hanya dimanfaatkan unsur-unsur keperempuannya? Bahkan ada yang memaksakan keberadaan seorang perempuan dengan 'close-up' pada bagian khas perempuan untuk mendampingi suatu produk. Saya sendiri sering merasa jijik jika ada iklan seperti itu.
Adat-istiadat dan budaya daerah, penindasan terhadap perempuan adalah opini yang dipaksakan untuk menolak RUU Pornografi. Saya sebut dipaksakan karena sarat dengan kepentingan pribadi. Maka siapakah yang lebih beradab dalam urusan ini?
Karena itu, bagi saya tak ada alasan untuk menunda pengesahaan RUU Pornografi. Sudah banyak perubahan yang dilakukan dari draft pertama hingga terakhir. Segera sahkan RUU Pornografi yang merupakan kebutuhan bangsa kita, karena kita adalah bangsa yang beradab dan punya martabat.
2008/10/16
2008/10/15
Sistem Ekonomi Alternatif
Saya tidak tahu banyak tentang sistem ekonomi, pengamat pun bukan, apalagi pakar. Tetapi, mengikuti Todays Dialog di MetroTV tadi malam saya tergerak untuk berkomentar. Anggaplah ini komentar dari seorang yang ikut merasakan dampak sistem ekonomi. Ya, bagaimana tidak, bukankah kita semua punya kegiatan ekonomi? Jadi, tentu saja terlibat; langsung atau tak langsung.
Sayangnya, saya tidak mengikuti acara tersebut dari awal. Kira-kira 3/4-nya saja di bagian akhir. Keempat orang narasumber yang dihadirkan sepakat menginginkan adanya perubahan bagi sistem ekonomi di Indonesia. Hanya, ada yang malu-malu dan ada yang tegas. Bahkan ada yang sudah menawarkan sistem ekonomi alternatif.
Bagi yang tegas, saya salut kepada mereka. Bukan semata-mata karena saya - yang dengan ketidaktahuan saya dalam bidang ekonomi ini - juga menginginkan adanya perubahan. Tetapi alasan dan bukti yang mereka paparkan cukup lugas dan realistis.
Tetapi yang malu-malu, saya menyayangkannya. Dia adalah Rizal Mallarangeng, yang bagi saya tampak pembelaannya pada sistem kapitalis. Yang lebih mengherankan saya adalah keragu-raguannya terhadap sistem ekonomi syariah (Islam) yang menurutnya tidak mengapa kalau hendak dijadikan alternatif namun masih perlu dibuktikan dulu. Sementara itu, dia malah menawarkan apa yang disebutnya sistem ekonomi Pancasila.
Jelas saya lebih percaya pada sistem ekonomi syariah. Alasan pertama, kepercayaan ini adalah konsekuensi logis bagi seorang muslim yang telah menerima Islam sebagai sistem hidup. Yang kedua, sistem ekonomi syariah bukan barang baru karena sudah pernah ada dan tentu saja membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk hal ini, kita perlu membuka lembaran sejarah, khususnya pada masa keemasan Islam.
Dengan demikian, meragukan sistem ekonomi syariah dan menganggapnya masih perlu dibuktikan adalah alasan yang menurut saya terlalu mengada-ada. Padahal, sistem ekonomi kapitalis sendiri belum juga terbukti membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Jika kesejahteraan itu bagi sekelompok masyarakat pemilik modal, memang sistem ekonomi kapitalis telah memberikan keuntungan yang besar. Itulah sebabnya disebut kapitalis.
Jadi, mengapa kita ragu untuk mengambil sistem ekonomi alternatif? Apa saja sistem alternatif itu tentu perlu dikaji dan membutuhkan waktu untuk bisa dirasakan manfaatnya. Tetapi, mempertahankan sistem yang hanya menguntungkan segolongan orang dan menghasilkan krisis yang berulang adalah pilihan yang mengherankan. Keledai saja tak terperosok ke dalam lubang yang sama. Arogansi apa yang menghalangi kita untuk menerima sesuatu yang lebih baik? Allohu a'lam.
Sayangnya, saya tidak mengikuti acara tersebut dari awal. Kira-kira 3/4-nya saja di bagian akhir. Keempat orang narasumber yang dihadirkan sepakat menginginkan adanya perubahan bagi sistem ekonomi di Indonesia. Hanya, ada yang malu-malu dan ada yang tegas. Bahkan ada yang sudah menawarkan sistem ekonomi alternatif.
Bagi yang tegas, saya salut kepada mereka. Bukan semata-mata karena saya - yang dengan ketidaktahuan saya dalam bidang ekonomi ini - juga menginginkan adanya perubahan. Tetapi alasan dan bukti yang mereka paparkan cukup lugas dan realistis.
Tetapi yang malu-malu, saya menyayangkannya. Dia adalah Rizal Mallarangeng, yang bagi saya tampak pembelaannya pada sistem kapitalis. Yang lebih mengherankan saya adalah keragu-raguannya terhadap sistem ekonomi syariah (Islam) yang menurutnya tidak mengapa kalau hendak dijadikan alternatif namun masih perlu dibuktikan dulu. Sementara itu, dia malah menawarkan apa yang disebutnya sistem ekonomi Pancasila.
Jelas saya lebih percaya pada sistem ekonomi syariah. Alasan pertama, kepercayaan ini adalah konsekuensi logis bagi seorang muslim yang telah menerima Islam sebagai sistem hidup. Yang kedua, sistem ekonomi syariah bukan barang baru karena sudah pernah ada dan tentu saja membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk hal ini, kita perlu membuka lembaran sejarah, khususnya pada masa keemasan Islam.
Dengan demikian, meragukan sistem ekonomi syariah dan menganggapnya masih perlu dibuktikan adalah alasan yang menurut saya terlalu mengada-ada. Padahal, sistem ekonomi kapitalis sendiri belum juga terbukti membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Jika kesejahteraan itu bagi sekelompok masyarakat pemilik modal, memang sistem ekonomi kapitalis telah memberikan keuntungan yang besar. Itulah sebabnya disebut kapitalis.
Jadi, mengapa kita ragu untuk mengambil sistem ekonomi alternatif? Apa saja sistem alternatif itu tentu perlu dikaji dan membutuhkan waktu untuk bisa dirasakan manfaatnya. Tetapi, mempertahankan sistem yang hanya menguntungkan segolongan orang dan menghasilkan krisis yang berulang adalah pilihan yang mengherankan. Keledai saja tak terperosok ke dalam lubang yang sama. Arogansi apa yang menghalangi kita untuk menerima sesuatu yang lebih baik? Allohu a'lam.
Langgan:
Entri (Atom)


