2008/09/22

Terputusnya Generasi

Sudah lama saya mengamati ini, bahkan di setiap bulan Romadlon beberapa tahun terakhir. Warung makanan di pinggir jalan yang sesak dengan anak-anak muda. Tak sedikit dari mereka masih memakai seragam sekolahnya. Yang paling sering terlihat adalah putih abu-abu. Apalagi di lingkungan perumahan saya ada beberapa sekolah menengah atas baik negeri maupun swasta. Di warung-warung itu, mereka tertawa-tawa, dengan gelas berisi Es Kelapa atau Pop Ice di tangannya.

Romadlon tahun ini matahari terik sekali. Kalau bukan untuk keperluan yang penting sekali, saya pun malas keluar, apalagi berkendara di jalanan yang panas, berdebu, dan berasap. Padat kendaraan dan padat polusi. Tetapi, di sinilah terasa benar ujian puasa. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Menjaga lisan dari umpatan atau keluhan. Menjaga mata dari memandang yang tidak sepatutnya dipandang. Dan hati, bagaimana agar tetap bersabar dan tidak ada sebersit niat buruk terlintas.

Tetapi melihat remaja-remaja itu dengan santainya tidak berpuasa, bahkan seakan justeru bangga dengan pelanggaran akan kewajiban dari Alloh yang menciptakan dan memberinya hidup, membuat pikiran saya terus terusik. Mengapa mereka berani berbuat itu? Tidak tahukah? Tidak mau belajarkah? Ataukah bahkan tidak mau tahu?

Kalau mereka tidak tahu, maka kita yang tahu bertanggung jawab atas ketidaktahuan mereka. Kata orang, surga itu terlalu luas untuk kita diami sendiri. Karena itu, kalau ajaklah orang lain untuk ikut berbuat kebaikan sebagaimana kita melakukan kebaikan itu. Intinya, jangan menjadi baik bagi diri sendiri. Tak hanya menjadi seorang yang sholih, tetapi juga menjadi orang yang mushlih, yaitu orang baik yang memperbaiki.

Kalau mereka tidak mau belajar, mengapa mereka tidak mau belajar? Apakah agama ini begitu menakutkan sehingga mereka tidak mau mempelajarinya? Karena ada hal lain yang lebih menarik untuk dipelajari. Mengapa mereka tidak mau mengorbankan waktunya - walau sedikit - untuk mempelajari agama ini? Apakah karena ada hal lain yang lebih asyik untuk dibayar dengan waktunya, bahkan dengan harta dan jiwanya? Lihat saja, narkoba itu kan sesuatu yang dibayar dengan harta dan jiwa. Jika memang demikian, maka kita perlu mengusahakan cara-cara yang menarik untuk memotivasi mereka belajar.

Kalau mereka sudah tidak mau tahu, ini yang parah. Tetapi saya yakin sebelum sampai pada titik ini, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya. Karena setiap anak turun Adam dibekali dengan fitrah - dan fitrah itu adalah kecenderungan kepada Islam - maka sifat tidak mau tahu bukanlah sifat dasar manusia.

Ibarat batang pohon yang baru tumbuh tetapi terus-menerus diterpa dan digoyang oleh angin bahkan badai, maka akarnya tidak akan sampai menancap kuat hingga akhirnya roboh. Anak-anak hingga remaja masih membutuhkan pembinaan hingga cukup kokoh untuk berhadapan dengan tipu daya mereka yang menginginkan kehancuran generasi. Ini agar generasi yang tegak di atas prinsip hidup Islam tidak terputus, tergantikan oleh generasi yang tak tahu akar sejarahnya apalagi tak tahu asal-mulanya dan arah tujuan hidupnya. Allohu a'lam.

2008/09/19

Tilang (2)

Tilang keempat selesai diproses tadi pagi. Kejadiannya sudah tiga pekan yang lalu, sebelum bulan Romadlon. Saya menjemput kakak dari Purabaya dengan mobil. Seorang pengendara sepeda motor memberi isyarat ketika saya hendak ke kanan di pertigaan Waru. Saya tidak mengerti maksud isyaratnya. Begitu saya ke kanan, seorang polisi muncul dari balik tiang beton fly-over. Hebat ya, polisi bisa muncul tiba-tiba dari balik beto. Seperti David Copperfiled menembus tembok besar Cina.

"Ada apa, Pak?" Tanya saya lugu.

Polisi itu menjelaskan di pertigaan ini tidak boleh ke kanan setelah pukul 16 dan meminta SIM dan STNK. Saya melirik Casio di lengan kiri. Sudah 16.15. Hmm, sejak kapan ada rambu larangan itu, ya?

Saya tepikan mobil lalu menghampiri polisi tadi di bawah fly-over. Dia sudah siap dengan surat tilangnya. Saat saya tiba, dia sudah menulis separuhnya. Wow, tidak ada tawar-menawar, batin saya. Persis seperti yang dikatakan oleh tetangga saya, polisi di Polsek. Sekarang ini ketat, kalau sampai ada polisi menerima suap bisa langsung dikenai sanksi bila ada laporan masuk kepada atasannya. Begitu juga, orang yang menyuap diperkarakan.

Tiba-tiba polisi itu bertanya, "Mau sidang di mana, Mas? Surabaya atau Sidoarjo?"

"Sidoarjo saja, Pak. Rumah saya Sidoarjo." Jawab saya singkat.

Mendengar jawaban saya, dia membuka lembaran baru dan menulis ulang. Mengapa harus membuat surat tilang baru? Padahal yang tadi baru ditulis nama dan alamat saya. Tempat sidang belum ditulisnya.

Tapi saya sedang malas berdebat. Biar saja. Mungkin yang tadi akan dilaporkan juga ke Surabaya. Atau tak tahulah. Saya pernah dengar, polisi diberi target untuk mendapatkan sejumlah tilang. Tapi itu dulu.

Pagi tadi pukul setengah sembilan, saya mengajak Zayd, yang kini sudah kelas 4 SD ke pengadilan. Kebetulan dia libur sekolah. Di tempat parkir, saya tanya tukang parkir letak ruang sidang tilang. Dia katakan di ruang yang tengah dan sidangnya baru dimulai setengah sepuluh nanti. Lalu dia menawarkan diri untuk menguruskan sidangnya.

"Sini saya bantu. Kalau yang begini habisnya 70 ribu," tawarnya sambil mengamati surat tilang saya. "Kalau mau sendiri, nanti setengah sepuluh," tambahnya.

"Terima kasih, Pak! Saya urus sendiri saja mumpung ada waktu," jawab saya.

Saya lihat ada kerumunan orang di timur ruang sidang. saya mendekat. Menurut informasi salah seorang yang ikut berkerumun, di sini tempat membayar denda tilang. Benar juga, di atas loket tertulis demikian. Terus, sidangnya bagaimana?

Tiba-tiba tukang parkir yang saya tanya tadi merangsek dalam kerumunan. Dia mendekati loket. Saya bengong. Seseorang di sebelah saya memberi saran.

"Surat tilangnya tumpuk saja di loket. Nanti kan dipanggil."

Saya pun merangsek menuju loket. Sebuah tangan segera menyambar surat tilang dari tangan saya begitu saya ulurkan ke dalam. Segera saya mundur lalu menghampiri Zayd yang saya minta menunggu di teras.

"Bi, sidangnya kapan, sih?"
"Sidang itu seperti apa?"
"Ruang jaksa itu untuk apa? Jaksa itu apa?

Sederet pertanyaan keluar dari mulut Zayd mengawali obrolan saya dengannya. Alhamdulillah, di tengah-tengah menunggu ada waktu untuk mempelajari hal baru baginya.

"Arief Andhi Y!" Suara lantang dari loket menghentikan penjelasan saya tentang jaksa.

"Ya, Pak!" Teriak saya, "Mas Zayd tunggu di sini dulu, ya!"

"Enam puluh satu ribu!" Kata petugas di loket.

Saya sodorkan 65 ribu rupiah karena tidak membawa pecahan seribuan. SIM A dan selembar 5 ribu saya kembali. Selesai. Saya menoleh kepada tukang parkir yang sudah berada di pelataran parkir. Sesederhana itu, pikir saya. Untuk urusan yang semudah ini, saya mesti menunggu tiga pekan dan hampir saja dibodohi tukang parkir.

Tetapi benarkah sesederhana itu? Jika dibandingkan proses tilang yang pernah saya ikuti dulu, memang ini lebih sederhana dan cepat. Tanpa ruang sidang, hakim, jaksa, dan ... kuitansi. Kalau begitu, urusan tilang hanyalah urusan uang.

Semakin banyak yang kena tilang, semakin banyak terkumpul uang. Lalu kapan masyarakat akan sadar untuk tidak melanggar?

Tilang (1)

Dalam sepuluh tahun terakhir, enam kali saya kena tilang. Dari enam kali itu, empat kali proses yang saya lalui berbeda-beda. Lainnya ... maaf, bayar di tempat. Bukan saya yang minta, tapi polisinya yang memberi 'alternatif' karena kejadiannya di luar kota.

Tilang pertama mesti saya bayar mahal dengan kesana-kemari karena saya terlambat mengikuti sidang di pengadilan. Sebenarnya, pagi saya sudah datang tetapi sidang belum juga dimulai sehingga saya tinggalkan. Siangnya saya kembali ke pengadilan, ternyata sidang sudah selesai. Saya bertanya kepada beberapa orang di sana dan disarankan untuk menemui Pak Fulan di ruang belakang. Oleh Pak Fulan saya disuruh membayar denda di kantor kejaksaan. Saya pun meluncur ke kantor kejaksaan yang jaraknya kira-kira satu kilometer dari kantor pengadilan. Di sana, saya mesti bertanya kepada beberapa orang sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang membawa surat tilang saya. Setelah membayar denda dan mendapat kuitansi, saya kembali ke pengadilan untuk mengambil SIM. Besoknya, saya ke kantor polisi untuk mengambil sepeda motor karena disita. Ceritanya, saya berkendara tanpa STNK karena sedang diurus perpanjangannya di Nganjuk.

Memang salah saya. Dan itu mesti saya bayar dengan kerepotan, biaya, dan sedikit kerusakan sepeda motor karena satu pekan 'tidur' di kantor polisi. Bannya bocor, beberapa bagian berkarat (hanya dalam satu pekan?), dan tangki bensin kosong.

Tilang kedua karena SIM C saya sudah mati. Waktu itu malam-malam pulang dari acara pengajian di Sedati. Di Buduran ada operasi. Semua sepeda motor dialihkan masuk ke halaman Comfeed. Wah, kena, nih! Tapi, yang membuat saya heran, petugas pencatatnya kok gemetaran. Apa karena begitu banyaknya yang terkena tilang? Manusiawi jika petugas itu capai, malam-malam lagi. Tapi yang lebih aneh, petugas yang melayani saya sempat bersitegang dengan rekannya karena pembagian jatah surat tilang. Rekannya minta tambahan surat tilang. Dengan sedikit mengomel, petugas ini merogoh bajunya dan mengeluarkan satu bundel surat tilang sambil me-warning rekannya, "Iki nggonku dhewe, lho! (Ini punyaku sendiri, lho!)"

Tilang ketiga, saya hendak menjemput Zayd - anak pertama saya - pulang sekolah. TK tempatnya bersekolah tidak jauh, kira-kira 2 kilometer. Tetapi, setengah kilometer dari rumah begitu masuk jalan raya ada bapak-bapak polisi berkerumun. Rupanya baru selesai operasi sepeda motor. Reflek saya putar balik karena tersadar STNK tertinggal. Kemarin sepeda motor dipakai isteri saya dan STNK masih ada padanya. Saya membawa serta Khonsa, adik Zayd yang baru tiga tahun, membanting stir ke kiri masuk perumahan. Seingat saya, ada jalan tembus untuk kembali menuju rumah saya tetapi ternyata jalan itu ditutup. Tiba-tiba kuda patroli polisi (Mitsubishi Kuda) telah menyusul di belakang.

"Saya mau jemput anak saya pulang sekolah. STNK saya ketinggalan, Pak. Ini mau saya ambil, rumah saya dekat situ," jelas saya.

Tapi, polisi itu tidak menggubris. SIM diminta dan saya disuruh ke pos. Tapi saya menolak.

"Saya ambil STNK dulu," tolak saya sambil men-starter sepeda motor.

Dengan STNK di tangan, saya datangi petugas di pos. Awalnya, sepeda motor saya hendak disita karena tidak bisa menunjukkan STNK. Tapi saya membantah sambil menunjukkan STNK. Syukurlah, tadi saya nekat pulang dulu mengambilnya. Saya sudah punya pengalaman sepeda motor disita. Rasanya, nggak lagi, deh!

Setelah dibuatkan surat tilang, saya pacu sepeda motor ke sekolah Zayd. Khonsa sudah saya tinggalkan di rumah bersama Umminya waktu saya ambil STNK tadi. Di jalan, saya terus memikirkan 'insiden' tilang tadi. Kalau saja saya tidak putar balik, mungkin tidak kena tilang. Lha ternyata polisi-polisi itu sedang beristirahat. Operasinya sendiri sudah selesai. Justru karena tindakan bodoh saya yang mendadak putar balik itulah yang membuat mereka curiga.

Satu pekan berikutnya, saya hadir di pengadilan. Saya tunggu hingga sidang dimulai karena tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terjadi lagi. Alhamdulillah, tidak sampai satu jam nama saya dipanggil. Setelah mengantri membayar dan mendapat kuitansi, SIM saya kembali dengan biji stapler di sana-sini. Aduh, bikin SIM tampak buruk saja. Gara-gara tindakan bodoh.

'Kebodohan' saya seperti ini terjadi lagi waktu saya akan ke Malang. Saya mengendarai sepeda motor kakak saya yang STNKnya sedang diurus perpanjangannya di Malang. Rencananya, saya akan mengambilnya. Tetapi di bawah jembatan tol Porong (jauh sebelum lumpur Lapindo membuatnya dibongkar) ada operasi sepeda motor. Seorang petugas menghentikan saya. Apa boleh buat, saya berterus terang saja kalau tidak membawa STNK. Petugas itu menyuruh saya menepi dan mengarahkan saya kepada seorang petugas yang sedang menulis surat tilang.

Saya ke sana, berkerumun bersama yang lain menunggu antrian. Satu orang meninggalkan kerumuman. Kemudian orang berikutnya. Saya pun berpikir, kalau saya meninggalkan kerumunan lalu pergi tentu dikira sudah dicatat. Apalagi petugas yang menghentikan saya tadi tidak meminta SIM dan tidak juga mencabut kunci kontak.

Maka saya pun meninggalkan kerumunan.

Tetapi, sesaat sebelum saya menyalakan mesin sepeda motor, seorang polisi lewat dan bertanya, "Sudah, Mas?"

"Belum, Pak!" Reflek saya menjawabnya. Arrgh, kenapa menjawab belum?

"Ke sini, Mas! Bla ... bla ... bla," dan saya pun keluarkan empat puluh ribu rupiah dari lima puluh ribu yang dimintanya.

Walaupun saya sebut itu adalah tindakan bodoh, tapi saya menyukainya. Saya bersyukur bahwa reflek saya adalah reflek kejujuran karena memang posisi saya melanggar ketentuan. Yang tidak saya suka adalah perlakuan dari polisi yang seakan-akan para pelanggar ini - termasuk saya - seperti para kriminal.

(bersambung)