2008/04/15

Untuk Apa Sekolah?

Anak saya pernah bertanya, “Kenapa sih aku harus sekolah? Enakan di rumah, aku bisa main.” Tak hanya sekali. Di waktu yang lain pertanyaan itu diulang lagi.

Ya, mengapa mesti sekolah? Tidak bolehkan kalau kita tidak sekolah? Salahkah kita jika tidak sekolah? Dosakah? Deretan pertanyaan ini lalu-lalang dalam pikiran saya untuk berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan anak saya tadi. Akhirnya saya mendapatkan kata-kata yang cukup ‘toleran’ sebagai jawabannya dan sedikit memotivasi.

Suatu hari, saya menerima email bersubjek “Ma, kenapa aku mesti sekolah?” dari milis [sd-islam]. Banyak anggota yang berbagi jawaban. Yang inspiratif, normatif, hingga yang humoris. Luar biasa! Memang, anggota milis [sd-islam] sangat aktif berdiskusi. Tetapi, yang membuat saya terhenyak adalah kiriman email beberapa pekan setelah itu di milis yang sama. Subjeknya “Suatu siang di sekolah.” Isinya kurang lebih begini.

Suatu siang di sekolah. Kepala Sekolah berkeliling melihat-lihat pembelajaran di kelas-kelas. Sampai di sebuah kelas:

Kepala Sekolah: Pelajaran apa di kelas ini, Bu?

Bu Guru: Oh, Pak Kepala Sekolah! Saya sedang mengajar Sains, Pak.

KS: Hmm, membahas apa?

BG: Ini, tentang bunga dan bagian-bagian bunga.

KS: Tapi, saya kok tidak melihat ada bunga di sini?

BG: Oh, apa perlu, Pak? Saya sudah siapkan lembar kerja ini dan gambar bunga di papan tulis. Cukup besar untuk dilihat anak-anak yang paling belakang sekalipun.

KS: (Memperhatikan lembar kerja dengan gambar bunga sepatu, hitam putih karena fotokopian). Tapi apa tidak sebaiknya anak-anak mengamati bunga yang sebenarnya, Bu? (Padahal di halaman sekolah ada cukup bunga untuk dipetik dan tidak hanya bunga sepatu).

BG: Aduh, maaf Pak! Nanti anak-anak malah bingung.

KS: Bingung? Bagaimana?

BG: Ya, Pak! Sebab nanti di ujian, gambar di soalnya akan seperti ini. Jadi, cara ini justru akan sangat membantu anak-anak mengerjakan soal-soal ujian nanti.

KS: Ooo … (sambil menangguk-angguk tanda mengerti. Atau bingung???)

Kembali pada pertanyaan anak saya, “Kenapa sih aku harus sekolah?” Saya yakin ada banyak anak mempunyai pertanyaan serupa. Ada yang terungkap, ada pula yang tidak. Mungkin, mereka bertanya seperti itu karena mereka ingin tabayyun pemahamannya atas nasehat orang tua dan kenyataan yang dijumpai.

Orang tua dan guru mereka selalu menasehati untuk rajin belajar, rajin sekolah karena dengan sekolah mereka akan mempunyai bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan. Dengan bersekolah, mereka memperoleh banyak pengetahuan. Bersekolah menjadikan mereka pintar. Dan dengan bersekolah, mereka bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan, mempunyai penghasilan, lantas membantu orang yang kesulitan, dan berinfaq. Bahkan, dengan bersekolah, mereka menjadi tahu cara untuk menuju surga Alloh.

Tapi, pikiran mereka masih terlalu sederhana untuk memahami itu semua. Apalagi jika kenyataan di sekolah tak seperti yang mereka banyangkan atas nasehat-nasehat itu. Sekolah berarti dihukum jika terlambat. Sekolah berarti tugas menulis yang banyak. Sekolah berarti mengerjakan sederet soal-soal. Dan yang lebih tidak mereka mengerti, materi pelajaran dan soal-soalnya tidak berhubungan dengan apa yang mereka jumpai sehari-hari. Mereka akan terus bertanya-tanya untuk apa belajar penjumlahan? Kenyataannya, mereka hanya menjumpai deretan angka-angka dengan tanda-tanda yang hanya didapatinya di buku dan papan tulis. Untuk apa mempelajari bunga jika bunga yang dipelajarinya tidak sama dengan bunga-bunga yang memperindah halaman rumahnya? Untuk apa belajar tentang aturan tertulis dan tidak tertulis? Kenyataan yang sering dilihatnya adalah cetakan tata tertib yang hanya menjadi hiasan dinding. Atau perintah dan larangan yang tidak konsisten, seperti tanda larangan merokok tetapi tetap saja ada yang merokok, atau lampu merah menyala di perempatan tetapi ada saja yang menerobos.

Sungguh, pikiran mereka terlalu sederhana untuk memahami itu semua. Tetapi mereka bukan tidak mengerti. Mereka peka dengan apa-apa yang tidak konsisten karena otak mereka sedang melakukan konstruksi. Di dalam otak mereka sedang berlangsung proses membangun jalinan informasi. Setiap informasi yang diterima; suara, gambar, sentuhan akan saling dihubungkan untuk mengonstruksi pemahaman. Ibarat bangunan sebuah rumah, inilah saat menempatkan tiang, pintu, jendela, keramik, dan bagian-bagian lain pada tempatnya. Tentu saja ada alasan dan tujuan mengapa pintu ada di tempat tertentu. Ada juga alasan dan tujuan yang mendasari mengapa satu bagian harus terhubung dengan bagian yang lain. Sekali salah, maka akan merusak fungsi atau setidaknya kenyamanan.

Begitu juga dengan proses membangun jalinan informasi dalam otak. Sekali salah, satu informasi tersambung dengan informasi lain yang tidak tepat, maka akan terjadi kesalahan pemahaman.

Jadi, untuk apa sekolah? Mari kita berikan konstruksi yang tepat dan kokoh bagi anak-anak kita. Yang begitu kokohnya hingga akan tumbuh motivasi dalam dirinya untuk terus belajar sepanjang hayatnya. Dan itu mesti kita mulai dengan keteladanan dan kejujuran.