2009/10/16

Tertib Lalin Masuk Mata Pelajaran Sekolah

To: klubguruindonesia@yahoogroups.com

Saya sangat setuju. Setuju berkali-kali, nggak cuma sekali!

Lokasi rumah saya dikelilingi oleh sekolah. Ada TK, SD, SMP, SMA, dan ST (sekolah tinggi); negeri dan swasta. Setiap pagi saya berangkat mengantar anak-anak ke sekolahnya (agak jauh karena saya memilih SD lain, bukan SD di dekat rumah), saya selalu berpapasan dan berbarengan dengan pelajar berkendaraan.

Ruwet! Semrawut! Dan betul, nggak peduli dengan keselamatan orang lain.

Begitu juga saat mereka pulang di siang hari. Sama! Benar, semuanya mau ranking 1. Tapi anehnya, dalam prestasi sekolah tidak semuanya demikian. Buktinya?

Saya kadang pulang atau di rumah sekitar pukul 8 sampai 11 pagi. Di dekat rumah ada beberapa warung tempat para pelajar nongkrong. Sambil 'ngopi'. Sambil 'ngrokok'. Tak jauh dari rumah saya ada komplek ruko. Di sana ada yang menyediakan play-station. Ramai oleh pelajar.

Saya pernah berpikir agar tertib lalin dibiasakan dari sekolah-sekolah. Masih adakah cara yang lebih efektif? Bahkan, selama ini sepertinya tak ada yang mengajarkan tertib lalin kecuali Pak Polisi dengan Tilangnya. Tetapi, saya anggap cara Pak Polisi ini kurang efektif. Kurang mendidik. Apalagi, Tilang kok pake' musim. Ada kalanya hampir setiap hari ada orang ditilang. Tapi ada kalanya orang seenaknya berkendara. Saya suka mengamati kebiasaan Polisi Lalin yang musiman begini. Ada musimnya Polisi Lalin yang sembunyi di balik semak di tikungan. Atau di warung seberang traffic-light.

Mengapa hukum dan perundang-undangan yang sifatnya berlaku umum; seperti hukum lalu lintas tidak disosialisasikan di sekolah-sekolah? Menurut saya, materi ini adalah bagian dari kecakapan hidup. Aneh!

Lebih aneh lagi, ada ujian SIM; teori dan praktik. Tetapi yang menyelenggarakan ujian tidak pernah mengajarkan materi yang akan diujikan. Saya mengikuti ujian SIM 4 kali. Yang 3 kali saya ikuti ujiannya, yang sekali (ups, maaf) lewat Calo. Ujian yang terakhir saya ikuti mendapat nilai terbaik dibandingkan ujian-ujian sebelumnya, bahkan lebih baik daripada peserta ujian pada saat itu. Nilai itu saya peroleh bukan karena saya mempelajari materi yang akan diujikan, tetapi karena pengalaman saya mengikuti 2 ujian sebelumnya. Beruntung - alhamdulillah - saya masih mengingat beberapa soal atau model soalnya.

Bagaimana dengan orang lain? Apalagi para remaja atau pelajar? Maka, tak mengherankan jika sikap mereka berlalu lintas tidak mengikuti aturan.

Ayo, dukung pengajaran tertib lalin di sekolah!

Wassalam,
Arief A. Yudanarko
arifay.blogspot.com

2009/10/16 Untung

memang dah parah sekali kelakuan orang indonesia dalam berlalu lintas.
semuanya pengin duluan, nggak mau antri, nggak peduli dg kesalamtan
orang lain.
semua profesi nggak ada yg beres dalam berlalu lintas.
"persis kayak sistem rangking, semuanya mau rangking 1"

Setujukah anda materi ini masuk ke sekolah?

2009/10/01

Tali Sepatu Anakku

Sejak naik ke kelas 4, anakku minta dibelikan sepatu yang bertali. Memang bukan ide dia, tetapi dari arahanku sebagai orang tua. Kukatakan padanya bahwa salah satu keterampilan yang mesti kita kuasai adalah tali-temali karena kelak sangat berguna bagi kehidupan.

Aku merasa mempunyai sepatu bertali penting bagi anakku. Ada banyak manfaat yang bisa didapatnya, seperti keterampilan motorik dan kemandirian yang termasuk tugas perkembangan yang harus dituntaskan pada masa kanak-kanak. Sayangnya, hampir semua sepatu anak-anak yang dijual saat ini tidak bertali. Memang, jika dipandang dari kemudahan, sepatu dengan kancing atau perekat akan sangat membantu. Mengapa mempersulit diri? Mengapa mempersulit anak-anak?

Hati-hati! Ini adalah jebakan. Aku jadi ingat jawaban Pak Nuh (sekarang Menkominfo) atas pertanyaanku. Waktu itu, usai sholat maghrib dan isya' (sekaligus, jama' taqdim) di AOTS Kansai Kenshu Center, Osaka Japan di sela-sela kegiatan Robocon 1995. Di tengah diskusi yang asyik tentang ilmu sistem kontrol, aku bertanya,

"Pak Nuh, boleh nggak saya cukup memahami filosofi atau logika dari sebuah perhitungan kontrol. Saya bisa dengan mudah memahami bagaimana rumus-rumus itu terbentuk. Tetapi kalau disuruh mengerjakan perhitungan sampai menemukan nilai akhir, aduh ... sulit buat saya."

Apa jawab Pak Nuh?

"Ya gak oleh! (Ya tidak boleh!) Lha kalau sudah seperti saya (maksudnya sudah doktor dan dosen), boleh-boleh saja. Tapi kan saya sudah melalui masa-masa sulit menghitung seperti itu."

Apakah ini bisa disamakan dengan mempersulit orang lain? Menurut saya tidak. Ini adalah memberikan bekal keterampilan kepada orang lain. Di tengah percepatan kemajuan teknologi, banyak cara mudah yang ditawarkan untuk menggantikan cara-cara konvensional yang kadang dipandang sebagai cara sulit dan tidak efisien. Tetapi penting dicatat bahwa tidak semua yang konvensional adalah buruk. (Mario Teguh dalam salah satu sessinya di Golden Ways menyatakan demikian). Bahkan, kemudahan demi kemudahan yang selalu didapat bisa melemahkan semangat dan cita-cita. Ada banyak contoh yang bisa menjelaskannya. Dan, aku pun telah mengalaminya.

Alaminya, kemudahan adalah hasil dari sebuah proses yang di dalamnya ada kesulitan. Pertama kali mengerjakan tentu saja sulit karena benar-benar hal baru. Kedua kali akan lebih mudah daripada yang pertama. Ketiga kalinya akan lebih mudah daripada yang kedua, apalagi jika dibandingkan dengan yang pertama. Begitu seterusnya hingga menjadi kebiasaan, maka tanpa melihat dan memikirkan pun bisa melakukan. Kata orang Jawa 'karo merem wae isa' (kalau Madura mungkin begini: 'sambi meddem bai bissa'). Itu disebabkan otak kita mempunyai ingatan, begitu juga otot kita. Semakin digunakan, semakin diingat, semakin biasa. Hasilnya adalah terampil dan cerdas, sesuai dengan kecerdasan yang dimaksud oleh Howard Gardner bahwa kecerdasan bersumber dari kebiasaan pemecahan masalah dan menghasilkan karya kreatif (yang mendasari teori Multiple Intelligences).

Sementara, ajaran ilahiah yang telah mengantarkan kesuksesan Muhammad (saw) dan pengikutnya hingga 7 abad lamanya (dan insya Alloh hingga akhir zaman nanti) adalah,

"Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan," (inna ma'al 'usyri yusyron). Al Qur'an surat Al-Insyiroh, bahkan disebut dua kali yaitu pada ayat 5 dan 6.

Inilah jebakan teknologi. Kemudahan yang melenakan sehingga membuat kita lemah dan tergantung pada alat. Sebenarnya ini tidak menjadi masalah besar jika kita bisa membuat alatnya. Dengan demikian, justeru akan memandirikan. Tetapi yang sangat disayangkan, selama ini - beberapa generasi - kita hanya menjadi kastamer alias pembeli alat-alat itu. Dari tahun ke tahun kita menjadi target pasar produk mahal hingga murahan sekalipun.

Maka, apakah sama mempersulit orang dengan mengajari orang menghadapi kesulitan? Seperti memilihkan sepatu bertali bagi anak-anak kita, apakah masih penting di zaman yang setiap menit dan detiknya sangat berharga? Beberapa menit saja terlambat keluar dari rumah, peta lalu lintas sudah berubah signifikan. Dari lengang menjadi supermacet. Akibatnya, bisa terlambat sampai di sekolah atau di kantor. Akibat berikutnya lagi bisa terkena sanksi, dan seterusnya.

Tetapi jika kita berhitung menit dan detik waktu kita, kita harus menghitung yang sama atas menit dan detik yang dibutuhkan oleh anak-anak kita untuk mengikat tali sepatunya. Keterlambatan yang mereka alami untuk menuntaskan keterampilan motorik dan kemandiriannya - walau hanya tali sepatu - akan mahal harganya di kemudian hari.

Anakku kelas 5 sekarang. Kalau tak salah, yang dia pakai pagi tadi adalah sepasang sepatu bertali ketiga yang dia miliki sejak naik ke kelas 4 tahun lalu. Tapi, tadi pagi, aku masih harus mengajari anakku mengikat tali sepatunya. Astaghfirulloh ... aku telah membuatnya merugi, tak hanya menit dan detiknya, tetapi setahun lebih.