I just got this great song. Teachers should watch, listen, and read the lyric.
I Need My Teacher To Learn
by Kevin Honeycutt
In the 27th row of her college class
she was working real hard and trying to pass
She studied all night for the test she took
but she couldn’t use the notes on her own macbook
He’d told em that note cards were things they needed
and he wouldn’t change his mind though she begged or pleaded
the dark red F was no surprise, as the tears formed in her eyes
she said
(chorus)
kids are changing any fool can tell
and the ways that you teach em have to change as well
you might not like it cause we grow up fast
but prepare us for the future and not your past
There’s not one minute to burn
I need my teachers to learn
In detention hall there’s a quiet young man
with his head hung low a phone in his hand
he’s asking his Dad to feed his dog
cause he tried to post a story to his own blog
he was hoping that people would read his words
cuz an audience of one seems a bit absurd
what ever happened to compromise
he said the school should realize
that
(chorus)
kids are changing any fool can tell
and the ways that you’re teachin have to change as well
you might not like it cause we grow up fast
but prepare us for the future and not your past
There’s not one minute to burn
I need my teachers to learn
In a third grade room in a tiny town
there’s a blue eyed girl who’s feelin down
she’d tried to to bring her daddy to her show and tell
and he was gonna skype em all and wish them well
She showed em all the camera on her Mom’s netbook
but they wouldn’t let her do it on the school network
the man in camo never called
he was blocked by a firewall
she said
(chorus)
things are changing any fool can tell
and the ways that you’re teachin have to change as well
you might not like it cause we grow up fast
but prepare us for the future and not your past
There’s not one minute to burn
I need my teachers to learn
they need their teachers to learn
2010/02/04
2010/01/16
Pengalaman Sukses
Rekayasa kegagalan hanya dibutuhkan untuk mengagalkan peluang kesuksesan seseorang. Sementara rekayasa kesuksesan dibutuhkan untuk menghindari kegagalan. Maka, betapa kejamnya orang tua atau guru yang menyengaja anaknya atau muridnya beroleh kegagalan. Tanpa rekayasa pun kegagalan telah begitu mudah terjadi.
Hari ini adalah penerimaan rapor semester pertama anak-anakku. Seperti hari-hari penerimaan rapor yang dulu, aku selalu menyimpan pertanyaan tentang proses apa saja yang telah diikuti anak-anakku. Lalu, bagaimana hasil yang bisa dicapai oleh mereka. Aku selalu berusaha untuk tidak terjebak pada angka-angka yang tertera di kertas rapor. Walaupun ada nilai yang cukup jauh dari nilai rata-rata kelas, bagiku bukan masalah besar jika aku tahu bahwa anak-anakku telah menunjukkan proses yang baik. Aku hanya tak ingin nilai rapor anak-anakku tinggi tetapi mereka mendapatkannya melalui proses yang tidak mereka mengerti. Maka, setiap penerimaan rapor seperti ini, yang terpikir olehku adalah apa saja pengalaman sukses yang telah diperoleh anak-anakku selama satu semester terakhir.
Pengalaman sukses, istilah ini aku kenal dari Drs. Masruri, Direktur KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) beberapa tahun lalu. Kita, para orang tua dan para guru bertugas memberikan pengalaman sukses kepada anak-anak. Di rumah, anak diberi tugas-tugas mulai yang sederhana dulu yang memungkinkan dikerjakannya dengan tuntas. Di sekolah, pembelajaran hendaknya menjadikan peserta didik bisa menambah pengalaman-pengalaman menggembirakan yang baru berupa keberhasilan melalui proses pembelajaran pada berbagai aspek, bukan hanya mengerjakan soal-soal ujian.
Dulu, ketika di kelas 3, anakku pernah menginginkan menjadi ketua kelas. Keinginan itu terlaksana setahun kemudian, yaitu saat dia di kelas 4. Walaupun akhirnya bukan posisi ketua kelas, tetapi dia merasa puas telah ikut dalam proses pemilihan ketua kelas yang akhirnya dimenangkan oleh temannya. Mengetahui proses menuju posisi ketua kelas memberinya pengalaman baru. Dia sukses melalui proses itu walaupun tidak memperoleh posisi puncak. Hanya sayangnya, pengalaman itu dia peroleh satu tahun kemudian.
Seperti biji-biji yang siap ditanam, ia mempunyai masa yang berbeda-beda. Jika kita menyimpannya terlalu lama sehingga lewat masanya, maka biji itu tidak bisa tumbuh. Kita tidak bisa membuat hitungan pasti mengetahui saat yang tepat biji-biji itu tumbuh tunasnya. Bahkan, jika padanya ada beberapa titik tumbuh, maka kita pun tidak bisa memastikan ia bertunas dari titik tumbuh yang mana dulu. Begitu pula semangat. Setiap orang mempunyai kekuatan berbeda untuk menjaga semangatnya tetap menyala. Dan setiap orang mempunyai banyak semangat untuk banyak keinginan dan keterampilannya. Padanya pula ada banyak titik tumbuh yang tidak bisa diketahui dengan hitungan pasti kapan saat tepat ia bersemi.
Tetapi bagi para orang tua dan para guru, memberi rangsangan agar ada yang segera tumbuh dari titik tumbuh-titik tumbuh itu adalah tugasnya. Tunas yang bersemi adalah awal bagi pengalaman-pengalaman baru yang akan menjadi pemandu menghadapi tantangan-tantangan hidup berikutnya. Makin banyak pengalaman makin banyak yang bisa dilakukan, karena pengalaman tidak cukup dengan mengetahui saja. Disebut pengalaman karena ia dialami dan terjadi, sehingga membekas dan mempunyai arti bagi seseorang.
Sebagian orang yang kujumpai dalam obrolan santai hingga diskusi serius ada yang mengatakan bahwa pengalaman gagal juga penting bagi anak-anak kita. Demikianlah kehidupan yang akan dihadapinya kelak. Tidak selalu sukses.
Bagiku, memberi pengalaman gagal kepada anak-anak adalah tindakan kejam. Pernahkah kita – sebagai orang tua – menghitung berapa banyak kegagalan yang telah dialamai oleh anak-anak kita? Marilah kita menghitung sejak mereka belajar berjalan. Berapa kalikah mereka terjatuh, menangis, dan putus asa? Hingga kita pun merekayasa kesuksesan mereka dengan membimbingnya, membelikan alat bantu, dan menyemangatinya. Rekayasa kegagalan hanya dibutuhkan untuk mengagalkan peluang kesuksesan seseorang. Sementara rekayasa kesuksesan dibutuhkan untuk menghindari kegagalan. Maka, betapa kejamnya orang tua atau guru yang menyengaja anaknya atau muridnya beroleh kegagalan. Tanpa rekayasa pun kegagalan telah begitu mudah terjadi. Mungkin, itulah mengapa Allah memerintahkan manusia untuk berusaha mengubah keadaannya, karena tanpa usaha atau rekayasa mengubah keadaan maka tak akan ada perubahan.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka." (Ar-Ra'd: 11)
Ada catatan kaki pada terjemahan ayat ini, yaitu Tuhan tidak akan mengubah keadaan mereka selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka. Jadi, manakah yang lebih kita butuhkan? Rekayasa kegagalan atau rekayasa kesuksesan?
Tetapi sungguh sayang, kesibukan pembelajaran di sekolah saat ini lebih banyak sampai pada memahami saja. Itu pun muatan terbesarnya adalah mata pelajaran. Sementara pembinaan keterampilan hidup mendapatkan sedikit perhatian. Memang, murid-murid sekarang masih bisa mempunyai banyak pengalaman sukses, tetapi pengalaman sukses dalam ilmu pengetahuan melalui ujian tulis, olimpiade, cerdas cermat, dan perlombaan semacamnya. Lebih-lebih yang bersekolah di fullday-school, hampir seluruh waktu produktifnya dihabiskan di sekolah. Maka jika pengalaman sukses yang mereka dapatkan selama bersekolah hanya untuk memenuhi nilai rapor mata pelajaran melalui ujian demi ujian itu, aku khawatir mereka berkembang dalam kemiskinan pengalaman. Sementara itu, tantangan kehidupan yang kelak akan mereka hadapi dapat kita ramalkan jauh berbeda dengan masa yang sedang kita alami kini.
Sesuai pesan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar kita mengajari anak-anak dengan bekal keterampilan untuk menghadapi kehidupannya di masa datang, bukan keterampilan yang hanya dibutuhkan di masa kini. Mereka membutuhkan pengalaman-pengalaman sukses di masa kini yang kelak akan menjelma optimisme dan rasa percaya diri. Maka, marilah kita berikan sebanyak-banyaknya pengalaman sukses kepada anak-anak kita.
Hari ini adalah penerimaan rapor semester pertama anak-anakku. Seperti hari-hari penerimaan rapor yang dulu, aku selalu menyimpan pertanyaan tentang proses apa saja yang telah diikuti anak-anakku. Lalu, bagaimana hasil yang bisa dicapai oleh mereka. Aku selalu berusaha untuk tidak terjebak pada angka-angka yang tertera di kertas rapor. Walaupun ada nilai yang cukup jauh dari nilai rata-rata kelas, bagiku bukan masalah besar jika aku tahu bahwa anak-anakku telah menunjukkan proses yang baik. Aku hanya tak ingin nilai rapor anak-anakku tinggi tetapi mereka mendapatkannya melalui proses yang tidak mereka mengerti. Maka, setiap penerimaan rapor seperti ini, yang terpikir olehku adalah apa saja pengalaman sukses yang telah diperoleh anak-anakku selama satu semester terakhir.
Pengalaman sukses, istilah ini aku kenal dari Drs. Masruri, Direktur KPI (Kualita Pendidikan Indonesia) beberapa tahun lalu. Kita, para orang tua dan para guru bertugas memberikan pengalaman sukses kepada anak-anak. Di rumah, anak diberi tugas-tugas mulai yang sederhana dulu yang memungkinkan dikerjakannya dengan tuntas. Di sekolah, pembelajaran hendaknya menjadikan peserta didik bisa menambah pengalaman-pengalaman menggembirakan yang baru berupa keberhasilan melalui proses pembelajaran pada berbagai aspek, bukan hanya mengerjakan soal-soal ujian.
Dulu, ketika di kelas 3, anakku pernah menginginkan menjadi ketua kelas. Keinginan itu terlaksana setahun kemudian, yaitu saat dia di kelas 4. Walaupun akhirnya bukan posisi ketua kelas, tetapi dia merasa puas telah ikut dalam proses pemilihan ketua kelas yang akhirnya dimenangkan oleh temannya. Mengetahui proses menuju posisi ketua kelas memberinya pengalaman baru. Dia sukses melalui proses itu walaupun tidak memperoleh posisi puncak. Hanya sayangnya, pengalaman itu dia peroleh satu tahun kemudian.
Seperti biji-biji yang siap ditanam, ia mempunyai masa yang berbeda-beda. Jika kita menyimpannya terlalu lama sehingga lewat masanya, maka biji itu tidak bisa tumbuh. Kita tidak bisa membuat hitungan pasti mengetahui saat yang tepat biji-biji itu tumbuh tunasnya. Bahkan, jika padanya ada beberapa titik tumbuh, maka kita pun tidak bisa memastikan ia bertunas dari titik tumbuh yang mana dulu. Begitu pula semangat. Setiap orang mempunyai kekuatan berbeda untuk menjaga semangatnya tetap menyala. Dan setiap orang mempunyai banyak semangat untuk banyak keinginan dan keterampilannya. Padanya pula ada banyak titik tumbuh yang tidak bisa diketahui dengan hitungan pasti kapan saat tepat ia bersemi.
Tetapi bagi para orang tua dan para guru, memberi rangsangan agar ada yang segera tumbuh dari titik tumbuh-titik tumbuh itu adalah tugasnya. Tunas yang bersemi adalah awal bagi pengalaman-pengalaman baru yang akan menjadi pemandu menghadapi tantangan-tantangan hidup berikutnya. Makin banyak pengalaman makin banyak yang bisa dilakukan, karena pengalaman tidak cukup dengan mengetahui saja. Disebut pengalaman karena ia dialami dan terjadi, sehingga membekas dan mempunyai arti bagi seseorang.
Sebagian orang yang kujumpai dalam obrolan santai hingga diskusi serius ada yang mengatakan bahwa pengalaman gagal juga penting bagi anak-anak kita. Demikianlah kehidupan yang akan dihadapinya kelak. Tidak selalu sukses.
Bagiku, memberi pengalaman gagal kepada anak-anak adalah tindakan kejam. Pernahkah kita – sebagai orang tua – menghitung berapa banyak kegagalan yang telah dialamai oleh anak-anak kita? Marilah kita menghitung sejak mereka belajar berjalan. Berapa kalikah mereka terjatuh, menangis, dan putus asa? Hingga kita pun merekayasa kesuksesan mereka dengan membimbingnya, membelikan alat bantu, dan menyemangatinya. Rekayasa kegagalan hanya dibutuhkan untuk mengagalkan peluang kesuksesan seseorang. Sementara rekayasa kesuksesan dibutuhkan untuk menghindari kegagalan. Maka, betapa kejamnya orang tua atau guru yang menyengaja anaknya atau muridnya beroleh kegagalan. Tanpa rekayasa pun kegagalan telah begitu mudah terjadi. Mungkin, itulah mengapa Allah memerintahkan manusia untuk berusaha mengubah keadaannya, karena tanpa usaha atau rekayasa mengubah keadaan maka tak akan ada perubahan.
إن الله لايغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka." (Ar-Ra'd: 11)
Ada catatan kaki pada terjemahan ayat ini, yaitu Tuhan tidak akan mengubah keadaan mereka selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka. Jadi, manakah yang lebih kita butuhkan? Rekayasa kegagalan atau rekayasa kesuksesan?
Tetapi sungguh sayang, kesibukan pembelajaran di sekolah saat ini lebih banyak sampai pada memahami saja. Itu pun muatan terbesarnya adalah mata pelajaran. Sementara pembinaan keterampilan hidup mendapatkan sedikit perhatian. Memang, murid-murid sekarang masih bisa mempunyai banyak pengalaman sukses, tetapi pengalaman sukses dalam ilmu pengetahuan melalui ujian tulis, olimpiade, cerdas cermat, dan perlombaan semacamnya. Lebih-lebih yang bersekolah di fullday-school, hampir seluruh waktu produktifnya dihabiskan di sekolah. Maka jika pengalaman sukses yang mereka dapatkan selama bersekolah hanya untuk memenuhi nilai rapor mata pelajaran melalui ujian demi ujian itu, aku khawatir mereka berkembang dalam kemiskinan pengalaman. Sementara itu, tantangan kehidupan yang kelak akan mereka hadapi dapat kita ramalkan jauh berbeda dengan masa yang sedang kita alami kini.
Sesuai pesan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar kita mengajari anak-anak dengan bekal keterampilan untuk menghadapi kehidupannya di masa datang, bukan keterampilan yang hanya dibutuhkan di masa kini. Mereka membutuhkan pengalaman-pengalaman sukses di masa kini yang kelak akan menjelma optimisme dan rasa percaya diri. Maka, marilah kita berikan sebanyak-banyaknya pengalaman sukses kepada anak-anak kita.
Labels:
nilai,
Pembelajaran,
pengalaman,
rapor
2009/12/18
Belajar Disiplin Lalu Lintas Cara SDIT Nurul Islam Krembung
Beberapa waktu lalu saya menulis tentang sekolah perlu mengajarkan tertib berlalu-lintas. Nah, ini ada sekolah yang sudah melaksanakannya.----
Sopan santun di Jalan Raya adalah salah satu kepribadian yang diajarkan di SDIT NURUL ISLAM KREMBUNG. Sopan santun ini diajarkan dalam bentuk teori, pengamatan langsung di Jalan Raya, serta berdialog langsung dengan petugas polisi yang ada di Sektor Krembung.
----
Selengkapnya, kunjungi saja blog sekolah ini di: SDIT Nurul Islam Krembung, Sidoarjo.
Labels:
disiplin,
karakter,
Lalu lintas,
Pembelajaran
Langgan:
Entri (Atom)


