2009/07/08

Indonesia Kids Choice Awards (Nickelodeon)

Setiap Juli ada hari istimewa bagi anak-anak di Indonesia, tepatnya tanggal 23 yang diberi nama Hari Anak Nasional. Kita semua dapat merayakannya karena kita semua adalah anak. Yang kanak-kanak hingga tua kan tetap saja seorang anak, bukan?

Tetapi ada yang mengusik perhatian saya ketika menemani anak-anak selama liburan ini menonton teve di rumah. Indonesia Kids Choice Awards miliknya Nickelodeon rajanya film kartun ini. Beberapa segmen iklan tentang acara yang akan digelar bertepatan dengan Hari Anak Nasional nanti saya perhatikan. Masih kurang puas, saya tanya Mas Google.

Ternyata, Kids Choice Awards (KCA) adalah hajatan internasional yang sudah dimulai 20 tahun yang lalu. Di Indonesia, KCA pertama diadakan tahun 2008 kemarin oleh Global TV (klik untuk melihat websitenya).

Lantas apa yang membuat saya terusik? Nominasinya. Penghargaan ini diberikan untuk 10 kategori. Setiap kategori ada 4 nominasi. Memperhatikan 10 kategori ini, saya lantas bertanya, "Where are the kids?"

Seperti saya sebut di atas, memang kita semua adalah anak, tetapi kata 'kids' lebih spesifik dan dikhususkan kepada anak-anak atau anak kecil. Jadi, saya tentu mengira KCA adalah untuk memilih selebriti cilik. Ternyata bukan! Yahh, masih untung ada satu kategori yang menurut saya masih nyambung, yaitu Program Kartun Favorit.

Jika memang kenyataannya itulah yang menjadi pilihan anak-anak, maka saya kok ngeri. Bagaimana tidak ngeri? Hampir semua yang masuk nominasi adalah artis layar kaca yang lebih sering tampil membawakan acara dewasa. Penyanyi? Lagu-lagu yang dibawakan tak satupun lagu anak-anak. Bintang film atau sinetron? Mari kita hitung, berapa banyak film atau sinetron anak bermutu yang ada? Mengapa pemain pada film Laskar Pelangi tidak ada dalam daftar nominasi? Masuk di tahun lalu pun tidak. Dalam kategori Atlit Favorit, ada pemain sepak bola, badminton, petinju, dan bina raga. Hmm, okelah masih bisa diterima. Berarti dari 10 kategori, hanya ada 2 kategori yang bukan dari artis sinetron, penyanyi, model, dan sejenisnya.

Yang lebih menyedihkan bagi saya, kategori kesepuluh yaitu Wanna Be diisi oleh Bunga Citra Lestari, Agnes Monica, Rafi Ahmad, dan Afgan. Memangnya ada apa dengan mereka? Bukan salah mereka, sih! Tapi menurut saya, apakah tidak ada Wanna Be lain yang bukan artis, penyanyi, dan sejenisnya yang diinginkan oleh anak-anak negeri ini?

Saya lantas berandai-andai. Jika KCA ini adalah potret keinginan anak-anak Indonesia, di manakah dunia anak-anak Indonesia? Di manakah lagu anak-anak, jika lagu yang ada tentang percintaan, kisah asmara, putus cinta? Di manakah tontonan anak-anak, jika tontonan yang ada bertema perselingkuhan, rebutan pacar, rebutan harta, balas dendam?

Tetapi, saya tetap berbaik sangka, KCA bukan potret generasi penerus bangsa negeri ini. Karena itu, saya berpesan kepada seluruh anak Indonesia, semua yang merasa pernah menjadi seorang anak dan yang masih merasa tetap seorang anak agar mencita-citakan Indonesia yang mandiri dan bermartabat, berbudaya ilmiah, dan tidak asal mengekor apapun budaya bangsa lain.

Bacaan:
Indonesia KCA 2009 GlobalTV
Indonesia KCA di Wikipedia
Nickelodeon KCA Wikipedia

2009/06/11

Pilpres 2009

Tulisan ini saya kirim di milis [sd-islam] sebagai tanggapan diskusi tentang Pilih Siapa di Pilpres 2009.

Sebagai seorang pendidik, lantas apa yang kita lakukan di tengah ramainya Pilpres ini?

Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengajarkan proses panjang mencapai cita-cita. Apakah itu cita-cita sebuah negara, atau sekelompok masyarakat. Saya anggap ini menjadi penting karena penyakit 'instan' telah mewabah di negeri ini. Lihat kembali Pileg kemarin. Sebagian besar orang memilih Caleg yang mau memberi uang atau sejenisnya yang lebih besar nilainya. Malah ada yang memilih Caleg yang paling paling akhir memberi (menjelang hari pemilihan, serang fajar) walaupun nominalnya tidak seberapa. Di daerah saya, ada sekelompok masyarakat yang telah 'diopeni' oleh tokoh partai tertentu sejak lama, dua bahkan tiga tahun sebelum Pemilu dengan advokasi dan bea siswa. Tetapi, suara partai sang tokoh 'jeblok' di sana. Usut punya usut, ada serangan fajar dengan amunisi 15 ribuan hingga 25 ribuan.

Jika ingin bangsa ini maju dan mandiri, kita harus mengajarkan kepada masyarakat, utamanya murid-murid kita tentang proses panjang pembangunan. Kesejahteraan tidak bisa didapat hanya dengan sekejap. (Kecuali dapat undian milyaran, itu pun hanya yang bersifat materi dan tak akan berdampak lama jika mentalnya tidak siap). Maka, memilih pemimpin bangsa tidak pula bisa dilakukan hanya dengan sim-salabim. Kita membutuhkan data yang cukup sebagai alasan untuk menjatuhkan pilihan kepada salah satu calon. Tetapi perlu diingat, bahwa pemilihan calon tersebut bukanlah tujuan akhir dari proses panjang pembangunan. Kita harus bisa 'ngempet' menahan diri untuk tidak terjebak pada kepentingan sesaat. Karena setiap zaman itu ada tokohnya.

Calon pemimpin yang bersedia bekerjasama dalam bingkai platform tentulah yang lebih berpeluang membangun bangsa ini daripada calon yang mengandalkan kesalehan pribadi dan dominasi kelompoknya. Kesediaan untuk menerima platform yang diajukan sebagai bingkai kerjasama dapat menunjukkan kapasitas kepemimpinannya karena di dalam bangsa ini ada banyak kelompok dengan keunikan masing-masing.

Saya analogikan di sebuah kelas yang berisi 30 murid dengan keunikan masing-masing. Seorang wali kelas yang baik tentulah yang dapat menjadi fasilitator bagi seluruh muridnya. Setiap muridnya bisa merasa dekat dengan wali kelas tersebut, bukan hanya murid yang fast-learner saja, yang fisiknya baik saja, atau sekelompok kecil lainnya.

Lantas bagaimana cara kita mendapatkan data akurat tentang calon-calon pemimpin itu? Saat ini, sumber informasi ada di mana-mana. Yang perlu kita jadikan pegangan adalah tidak semua sumber itu menyajikan informasi yang shahih dan dari sanad yang tersambung ke orang pertama. Pendahulu kita telah mengajarkan hal ini pada periwayatan hadits. Siapakah pembawa informasi yang bisa kita percaya dan siapa yang tidak, kita pun bisa mengukurnya.

Akhirnya, saya punya sebuah harapan besar kepada bangsa ini, khususnya insan pendidikan untuk menjadi perhelatan Pilpres (dan tentunya Pileg kemarin) sebagai media pembelajaran bagi murid-murid kita.
Allohu a'lam bishowab.

Info Palestina