To: klubguruindonesia@yahoogroups.com
Saya sangat setuju. Setuju berkali-kali, nggak cuma sekali!
Lokasi rumah saya dikelilingi oleh sekolah. Ada TK, SD, SMP, SMA, dan ST (sekolah tinggi); negeri dan swasta. Setiap pagi saya berangkat mengantar anak-anak ke sekolahnya (agak jauh karena saya memilih SD lain, bukan SD di dekat rumah), saya selalu berpapasan dan berbarengan dengan pelajar berkendaraan.
Ruwet! Semrawut! Dan betul, nggak peduli dengan keselamatan orang lain.
Begitu juga saat mereka pulang di siang hari. Sama! Benar, semuanya mau ranking 1. Tapi anehnya, dalam prestasi sekolah tidak semuanya demikian. Buktinya?
Saya kadang pulang atau di rumah sekitar pukul 8 sampai 11 pagi. Di dekat rumah ada beberapa warung tempat para pelajar nongkrong. Sambil 'ngopi'. Sambil 'ngrokok'. Tak jauh dari rumah saya ada komplek ruko. Di sana ada yang menyediakan play-station. Ramai oleh pelajar.
Saya pernah berpikir agar tertib lalin dibiasakan dari sekolah-sekolah. Masih adakah cara yang lebih efektif? Bahkan, selama ini sepertinya tak ada yang mengajarkan tertib lalin kecuali Pak Polisi dengan Tilangnya. Tetapi, saya anggap cara Pak Polisi ini kurang efektif. Kurang mendidik. Apalagi, Tilang kok pake' musim. Ada kalanya hampir setiap hari ada orang ditilang. Tapi ada kalanya orang seenaknya berkendara. Saya suka mengamati kebiasaan Polisi Lalin yang musiman begini. Ada musimnya Polisi Lalin yang sembunyi di balik semak di tikungan. Atau di warung seberang traffic-light.
Mengapa hukum dan perundang-undangan yang sifatnya berlaku umum; seperti hukum lalu lintas tidak disosialisasikan di sekolah-sekolah? Menurut saya, materi ini adalah bagian dari kecakapan hidup. Aneh!
Lebih aneh lagi, ada ujian SIM; teori dan praktik. Tetapi yang menyelenggarakan ujian tidak pernah mengajarkan materi yang akan diujikan. Saya mengikuti ujian SIM 4 kali. Yang 3 kali saya ikuti ujiannya, yang sekali (ups, maaf) lewat Calo. Ujian yang terakhir saya ikuti mendapat nilai terbaik dibandingkan ujian-ujian sebelumnya, bahkan lebih baik daripada peserta ujian pada saat itu. Nilai itu saya peroleh bukan karena saya mempelajari materi yang akan diujikan, tetapi karena pengalaman saya mengikuti 2 ujian sebelumnya. Beruntung - alhamdulillah - saya masih mengingat beberapa soal atau model soalnya.
Bagaimana dengan orang lain? Apalagi para remaja atau pelajar? Maka, tak mengherankan jika sikap mereka berlalu lintas tidak mengikuti aturan.
Ayo, dukung pengajaran tertib lalin di sekolah!
Wassalam,
Arief A. Yudanarko
arifay.blogspot.com
Saya sangat setuju. Setuju berkali-kali, nggak cuma sekali!
Lokasi rumah saya dikelilingi oleh sekolah. Ada TK, SD, SMP, SMA, dan ST (sekolah tinggi); negeri dan swasta. Setiap pagi saya berangkat mengantar anak-anak ke sekolahnya (agak jauh karena saya memilih SD lain, bukan SD di dekat rumah), saya selalu berpapasan dan berbarengan dengan pelajar berkendaraan.
Ruwet! Semrawut! Dan betul, nggak peduli dengan keselamatan orang lain.
Begitu juga saat mereka pulang di siang hari. Sama! Benar, semuanya mau ranking 1. Tapi anehnya, dalam prestasi sekolah tidak semuanya demikian. Buktinya?
Saya kadang pulang atau di rumah sekitar pukul 8 sampai 11 pagi. Di dekat rumah ada beberapa warung tempat para pelajar nongkrong. Sambil 'ngopi'. Sambil 'ngrokok'. Tak jauh dari rumah saya ada komplek ruko. Di sana ada yang menyediakan play-station. Ramai oleh pelajar.
Saya pernah berpikir agar tertib lalin dibiasakan dari sekolah-sekolah. Masih adakah cara yang lebih efektif? Bahkan, selama ini sepertinya tak ada yang mengajarkan tertib lalin kecuali Pak Polisi dengan Tilangnya. Tetapi, saya anggap cara Pak Polisi ini kurang efektif. Kurang mendidik. Apalagi, Tilang kok pake' musim. Ada kalanya hampir setiap hari ada orang ditilang. Tapi ada kalanya orang seenaknya berkendara. Saya suka mengamati kebiasaan Polisi Lalin yang musiman begini. Ada musimnya Polisi Lalin yang sembunyi di balik semak di tikungan. Atau di warung seberang traffic-light.
Mengapa hukum dan perundang-undangan yang sifatnya berlaku umum; seperti hukum lalu lintas tidak disosialisasikan di sekolah-sekolah? Menurut saya, materi ini adalah bagian dari kecakapan hidup. Aneh!
Lebih aneh lagi, ada ujian SIM; teori dan praktik. Tetapi yang menyelenggarakan ujian tidak pernah mengajarkan materi yang akan diujikan. Saya mengikuti ujian SIM 4 kali. Yang 3 kali saya ikuti ujiannya, yang sekali (ups, maaf) lewat Calo. Ujian yang terakhir saya ikuti mendapat nilai terbaik dibandingkan ujian-ujian sebelumnya, bahkan lebih baik daripada peserta ujian pada saat itu. Nilai itu saya peroleh bukan karena saya mempelajari materi yang akan diujikan, tetapi karena pengalaman saya mengikuti 2 ujian sebelumnya. Beruntung - alhamdulillah - saya masih mengingat beberapa soal atau model soalnya.
Bagaimana dengan orang lain? Apalagi para remaja atau pelajar? Maka, tak mengherankan jika sikap mereka berlalu lintas tidak mengikuti aturan.
Ayo, dukung pengajaran tertib lalin di sekolah!
Wassalam,
Arief A. Yudanarko
arifay.blogspot.com
2009/10/16 Untung
memang dah parah sekali kelakuan orang indonesia dalam berlalu lintas.
semuanya pengin duluan, nggak mau antri, nggak peduli dg kesalamtan
orang lain.
semua profesi nggak ada yg beres dalam berlalu lintas.
"persis kayak sistem rangking, semuanya mau rangking 1"
Setujukah anda materi ini masuk ke sekolah?



